Majalengka, 23 Maret 2025 — Memasuki bulan suci Ramadan, aktivitas di Pasar Cikijing, Kecamatan Cikijing, Kabupaten Majalengka, tampak jauh lebih padat dari hari-hari biasa. Warga mulai memadati pasar sejak pagi hari demi mendapatkan kebutuhan pokok untuk sahur dan berbuka puasa. Lonjakan jumlah pembeli ini pun berdampak langsung pada pedagang-pedagang sayur yang menjadi tujuan utama masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dapur. Salah satu pedagang yang merasakan langsung dampaknya adalah Ijah (65), seorang penjual sayur yang sudah berdagang di Pasar Cikijing. Pada Senin, 23 Maret 2025, Ijah mengaku kewalahan menghadapi membludaknya pembeli yang datang sejak sebelum matahari terbit. Lapaknya yang biasanya sepi di pagi hari, kini penuh sesak dengan pelanggan yang datang silih berganti. “Baru jam 3 pagi sudah banyak yang datang. Biasanya jam segitu masih santai. Sekarang buka lapak langsung diserbu,” ujar Ijah.. Ia mengaku harus menambah stok dan mempercepat pelayanan agar bisa melayani seluruh pelanggan dengan baik. Lonjakan ini bukan tanpa sebab. Ramadan memang selalu menjadi momen di mana kebutuhan masyarakat meningkat, terutama untuk bahan makanan segar. Menu sahur dan berbuka yang lebih variatif membuat belanja harian tak terhindarkan. Selain itu, sebagian masyarakat memilih berbelanja pagi-pagi sekali agar tidak kehabisan barang, dan juga menghindari cuaca panas di siang hari. Proses lonjakan pengunjung sudah mulai terasa sejak hari pertama Ramadan. Namun, lonjakan paling tinggi terjadi di pertama puasa, saat masyarakat mulai lebih aktif mempersiapkan berbagai hidangan berbuka dan sahur. Tak hanya pembeli yang bertambah, pedagang musiman dari luar daerah pun mulai berdatangan dan membuka lapak dadakan di area pasar. Situasi ini menambah keramaian sekaligus tantangan bagi pedagang tetap seperti Ijah. Selain harus bersaing dengan pedagang baru, ia juga harus melayani pelanggan dengan lebih cepat dan tetap menjaga kualitas dagangan. "Saya bawa barang dua kali lipat dari biasanya, tapi tetap saja cepat habis." Ujar Ijah Menanggapi kondisi ini, pengelola pasar memberikan imbauan kepada seluruh pedagang agar tetap menjaga ketertiban, kebersihan, serta tidak menaikkan harga secara tidak wajar. Mereka juga meminta kerjasama dari semua pihak agar aktivitas jual beli tetap berjalan lancar dan nyaman bagi semua. Meski lelah, Ijah mengaku tetap bersyukur. Ramadan memang menjadi momen rezeki tersendiri bagi para pedagang. “Capek, iya. Tapi alhamdulillah, bisa dapat penghasilan lebih. Yang penting pembeli puas dan saya masih kuat,” ujarnya sambil tersenyum lelah namun tulus.
Tulis-Tulis
Hasil Karya Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan.
Tulis-Tulis
Hasil Karya Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan.
Tulis-Tulis
Hasil Karya Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan.
Tulis-Tulis
Hasil Karya Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan.
Tulis-Tulis
Hasil Karya Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan.
Senin, 24 Maret 2025
BANJIR BANDANG MEMAKAN KORBAN, MENGINGAT KUNINGAN MULAI BANJIR!!
Semarak Ramadhan 1446 H di Desa Muktisari Penuh Nuansa Keislaman dan Kebersamaan
Majalengka, 24 Maret 2025 — Bulan suci Ramadhan 1446 H di Desa Muktisari, Kabupaten Majalengka, diwarnai dengan berbagai kegiatan keagamaan dan sosial yang semarak. Suasana religius terasa di setiap sudut desa, menciptakan atmosfer penuh kedamaian dan semangat ibadah di tengah masyarakat.
Salah satu kegiatan yang menjadi pusat perhatian warga adalah bazar Ramadhan yang digelar di depan Kantor Desa Muktisari. Bazar ini menyediakan beragam takjil, makanan berbuka puasa, hingga kebutuhan rumah tangga. Para pedagang, baik dari warga setempat maupun luar desa, turut meramaikan bazar tersebut.
“Alhamdulillah, tahun ini kita punya bazar Ramadhan di depan kantor desa. Tujuannya agar masyarakat dapat dengan mudah mencari takjil untuk berbuka puasa sekaligus sebagai ajang silaturahmi antarwarga,” ujar Kepala Desa Muktisari.
Buka Bersama dan Tarawih Keliling Pererat Ukhuwah
Di setiap masjid di Desa Muktisari, kegiatan buka puasa bersama dilaksanakan secara rutin. Warga datang berbondong-bondong untuk menikmati hidangan bersama sekaligus mempererat tali ukhuwah islamiyah. Suasana kekeluargaan sangat terasa dalam setiap momen kebersamaan tersebut.
Selain buka bersama, salat tarawih juga menjadi kegiatan utama di malam hari. Uniknya, desa ini mengadakan program tarawih keliling, di mana warga secara bergiliran melaksanakan tarawih di berbagai masjid yang ada. Kegiatan ini mempererat hubungan antarwarga dan memberikan pengalaman spiritual yang lebih beragam.
Kegiatan Sahur dan Program Remaja Masjid Menambah Kekhidmatan
Suasana Ramadhan semakin terasa dengan adanya kegiatan membangunkan sahur yang dilakukan secara bersama oleh warga. Suara bedug dan lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar di pagi hari, membangunkan warga untuk sahur dan menyiapkan diri menjalankan ibadah puasa.
Semangat mengisi bulan suci dengan kegiatan positif juga ditunjukkan oleh Ikatan Remaja Masjid Al-Falah. Mereka menyelenggarakan Kegiatan Pengisian Bulan Ramadhan (KPBR) dengan berbagai kegiatan seperti kajian agama, bakti sosial, perlombaan anak-anak, tadarusan, dan lain sebagainya.
“Kegiatan KPBR ini rutin dilaksanakan setiap Ramadhan. Tujuannya untuk menghidupkan suasana Ramadhan serta membangun hubungan yang erat antara remaja dan masyarakat,” ujar Erin, Ketua Ikatan Remaja Masjid Al-Falah.
Secara keseluruhan, Ramadhan tahun ini di Desa Muktisari diisi dengan berbagai kegiatan yang memperkuat keimanan dan kebersamaan. Partisipasi aktif masyarakat dari semua kalangan menjadikan bulan suci ini penuh makna. Pemerintah desa dan warga berharap semangat ini dapat terus terjaga dan menjadi inspirasi bagi desa-desa lain.
Warung Ayam Geprek Lesehan Hibar Subingah Jadi Favorit Mahasiswa dan Pekerja di Kuningan
MAHASISWA MANDIRI : PUNYA PENGHASILAN SENDIRI DENGAN FREELANCE LES PRIVAT DI TENGAH KESIBUKAN KULIAH
Kuningan, 24 Maret 2025 – Di tengah kesibukan perkuliahan, banyak mahasiswa kini memilih untuk bekerja paruh waktu dan memberikan les privat guna menambah penghasilan. Selain meringankan beban finansial, mereka juga belajar menjadi lebih mandiri dan bertanggung jawab, terutama bagi mahasiswa yang merantau kuliah di luar kota.
Salah satu mahasiswa yang berhasil menjalani peran ini adalah Sri Wahyuni, mahasiswa semester enam jurusan PGMI di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung (UIN SGD Bandung) yang berasal dari Kuningan. Dalam dua tahun terakhir, ia aktif memberikan les privat untuk siswa SD dan SMP di sekitar tempat kuliahnya.
“Ada minat mempunyai penghasilan sendiri itu karena kebutuhan sendiri juga, jadi menyesuaikan dengan gaya hidup masing-masing. Kalau dibilang mengganggu kuliah sih nggak, soalnya menyesuaikan jadwal perkuliahan. Jadi kalau tidak ada jadwal kuliah, saya bisa les privat,” ujar Sri Wahyuni.
Mahasiswa ini memanfaatkan waktu luang untuk bekerja tanpa mengganggu aktivitas akademik. Selain mendapatkan uang, ia juga belajar keterampilan yang akan berguna di dunia kerja nanti. Meski sibuk bekerja, ia tetap berusaha menjaga keseimbangan antara akademik dan pekerjaan. Ia berharap pengalaman ini bisa menjadi bekal untuk masa depan yang lebih baik.
PERMINTAAN SAYURAN MENINGKAT: MENAMBAH STOK ATAU MENAIKKAN HARGA?
Tingginya permintaan sayuran memicu dilema di kalangan pedagang kecil untuk menentukan strategi yang paling menguntungkan selama bulan ramadan di tahun 2025.
Nanggela, Cidahu - Bulan Ramadan adalah bulan yang dinanti-nanti oleh banyak pelaku usaha, terutama mereka yang bergerak di bidang pangan. Pangan menjadi kebutuhan utama bagi ibu rumah tangga dalam menghadapi bulan puasa. Salah satunya adalah Ibu Ini, seorang penjual sayur di Desa Nanggela yang mengalami kenaikan omzet sejak memasuki bulan Ramadan.
Menurutnya, permintaan sayuran dan kenaikan omzet mulai terasa sejak awal Ramadan. “Kenaikan tersebut mulai dirasakan sejak awal Ramadan, omzetnya mulai bertambah dan modal pun ikut bertambah,” ujarnya. Tahun-tahun sebelumnya pun mengalami hal serupa, permintaan sayuran selalu meningkat saat bulan Ramadan tiba.
Sayuran memang menjadi bahan baku utama yang banyak digunakan selama bulan Ramadan. Selain sebagai sumber nutrisi yang penting, sayuran juga memiliki manfaat kesehatan yang sangat baik, seperti vitamin, mineral, dan serat yang diperlukan tubuh setelah seharian berpuasa. Jenis sayuran yang paling laris di bulan Ramadan adalah sayur sop, kangkung, dan bayam. “Sayuran yang paling laris adalah sayur sop, kangkung, dan bayam,” kata Ibu Ini. Sayur-sayuran tersebut banyak dicari karena mudah dimasak dan sering dijadikan menu sahur yang sehat dan ringan.
Untuk memperoleh stok sayuran, Ibu Ini biasa mengunjungi Pasar Rakyat Ciawigebang, yang merupakan pusat perbelanjaan ekonomi terbesar dan terdekat dari Desa Nanggela. Setiap pagi, setelah shalat Subuh, ia bergegas menuju pasar untuk mencari sayuran segar agar bisa kembali dijual di warungnya. Namun, ia mengaku ada kendala saat mencari bahan sayuran. “Kondisi pasar yang ramai sering membuat lalu lintas macet dan menghabiskan waktu lama untuk mendapatkan sayuran yang dibutuhkan,” ungkapnya.
Pada bulan Ramadan, ibu-ibu rumah tangga yang berbelanja di warungnya cenderung membeli dua kali lipat dari biasanya. Hal ini karena mereka mempersiapkan makanan untuk sahur dan buka puasa. “Di bulan Ramadan ini, ibu-ibu belanjanya double, untuk buka puasa dan sahur persediaannya. Biasanya belanja satu kali, sekarang jadi dua kali. Jadi stok sayuran harus ditambah, dan modal juga harus ditambah,” jelasnya.
Untuk menghadapi lonjakan permintaan tersebut, penjual ini memilih untuk menambah stok sayuran. “Saya hanya menambah stok saja, kalau menaikkan harga, nanti pelanggan bisa beralih ke tempat lain yang lebih terjangkau. Jadi saya tetap menjaga harga standar,” ujarnya. Menurutnya, menaikkan harga saat permintaan meningkat bisa berdampak negatif karena pelanggan akan mencari alternatif lain yang lebih murah.
Bulan Ramadan memang menjadi kesempatan emas bagi penjual sayur untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Dengan menambah stok dan modal, penjual ini bisa memberikan pelayanan yang lebih baik kepada pelanggan yang membutuhkan sayuran segar selama bulan puasa. Bisnis yang dijalankan pun meraih keuntungan lebih besar selama Ramadan, dan ia berharap usaha ini dapat terus berkembang dan semakin membantu masyarakat di bulan penuh berkah ini.
Banjir Pengunjung! Pasar Ramadhan Cikaso Jadi Magnet Warga Saat Sore
Pasar Ramadhan ini merupakan hasil inisiatif pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) setempat, sebagai upaya menata pedagang yang sebelumnya berjualan di sekitar alun-alun secara tidak teratur. Untuk menjaga ketertiban dan kebersihan, para pedagang diminta melakukan pendaftaran dengan biaya administrasi Rp20.000 serta iuran kebersihan harian sebesar Rp3.000.
Diding, salah satu pedagang sekaligus panitia, mengaku senang dengan adanya pasar ini.
“Jujur aja, sejak ada pasar Ramadhan ini, jualan saya jadi lebih laku. Bisa dua kali lipat dari biasanya. Jadi ya kerasa banget berkahnya,” tuturnya.
Menjelang Lebaran, suasana pasar makin ramai. Tak hanya jadi tempat beli makanan, pasar ini juga jadi ajang kumpul warga dan tempat bersilaturahmi. Media sosial turut berperan dalam menyebarkan informasi dan menarik perhatian pengunjung.
“Aku tahu dari Instagram. Banyak yang upload suasana pasar ramadhan ini, katanya makanannya banyak dan enak-enak. Pas aku datang, ternyata emang rame banget dan pilihannya juga banyak,” ujar Syifa, salah satu pengunjung.
Beragam makanan dijajakan di pasar ini, mulai dari makanan tradisional seperti lotek dan gado-gado, hingga jajanan kekinian seperti batagor, cilok, siomay, telur gulung, dan dimsum. Aneka minuman segar seperti es teller, es tongji, dan es campur juga menjadi favorit pengunjung.
Ahmadi, petugas keamanan setempat, mengatakan bahwa pengunjung mulai berdatangan sejak pukul 16.00 WIB.
“Kalau sore tuh mulai rame, apalagi deket-deket buka puasa. Menjelang Lebaran, makin padat lagi. Kita siaga terus buat jaga keamanan. Biasanya juga sambil ngingetin pengunjung buat hati-hati sama barang bawaannya,” katanya.
Keberadaan Pasar Ramadhan di Desa Cikaso tidak hanya memudahkan masyarakat dalam mencari hidangan berbuka, tetapi juga berdampak positif terhadap ekonomi pedagang lokal. Tradisi ini diharapkan dapat terus berlangsung dan menjadi bagian dari semarak Ramadhan yang dinanti warga setiap tahunnya.
Minggu, 23 Maret 2025
Berbicara, Modal Utama dalam Berwirausaha selain Biaya
UNIKU, Senin (24/03/2025). Berwirausaha bukan hanya soal modal uang, tetapi juga kemampuan berbicara.
Hal ini disampaikan dalam acara Latihan Kepemimpinan Mahasiswa yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (HIMA PBSI) di Aula FKIP Universitas Kuningan.
Acara tersebut menghadirkan dua pemateri, yaitu Tifani Kautsar, M.Pd., dan Luthfi Ahmad Fadilah, M.Pd., yang menekankan bahwa keberhasilan dalam dunia usaha sangat ditentukan oleh kemampuan komunikasi.
"Berbicara adalah modal kuat untuk kita berwirausaha, karena mahasiswa PBSI memiliki kekuatan dalam bidang bahasa," ujar Luthfi Ahmad Fadilah. Ia menambahkan, dalam berwirausaha, proses awal yang harus dilakukan adalah berbicara menyampaikan ide, menjelaskan produk atau jasa, dan membangun ketertarikan.
Tifani Kautsar mencontohkan usaha jasa les privat, yang menurutnya tidak bisa berjalan tanpa komunikasi yang baik sejak tahap promosi hingga pelayanan. "Apa pun jenis usahanya, pasti dimulai dengan berbicara," katanya.
Lebih lanjut, kedua pemateri menjelaskan bahwa kemampuan berbicara membantu membangun relasi, memperluas jaringan, dan menjalin kerja sama. Dalam dunia bisnis, jaringan yang kuat adalah kunci sukses. Komunikasi yang baik memungkinkan pengusaha untuk meyakinkan pelanggan, menjelaskan keunggulan produk, memahami kebutuhan pasar, serta melakukan negosiasi dengan lebih efektif.
Secara singkat, berbicara bukan hanya keterampilan dasar, tetapi juga pondasi penting dalam membangun usaha. Tak heran jika banyak pengusaha sukses dikenal sebagai komunikator andal.
Pentingnya Mematuhi Aturan di Pesawat dan Tanggung Jawab Petugas Bandara dalam Menjaga Keselamatan Penerbangan
Kuningan, 24 Maret 2025 – Keselamatan penerbangan adalah hal yang tidak bisa ditawar, dan sangat bergantung pada kepatuhan semua pihak baik penumpang maupun petugas bandara. Ketidakpatuhan terhadap aturan dapat membahayakan banyak nyawa dan mengganggu operasional penerbangan.
Menurut
Muhammad Bagas Dirgantara, menyebut kata "bom" di dalam pesawat
merupakan pelanggaran berat yang bisa berujung pada hukuman pidana dan
pencatatan nama pelaku dalam daftar hitam. Hal ini sejalan dengan Undang-Undang
Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, yang menyatakan bahwa setiap ancaman,
termasuk secara verbal, bisa menyebabkan penerbangan dibatalkan atau ditunda
demi keamanan.
Selain itu,
pelanggaran lain yang kerap terjadi antara lain penggunaan ponsel tanpa mode
pesawat, tidak menggunakan sabuk pengaman, dan membawa bagasi kabin berlebihan.
Meski terlihat sepele, pelanggaran tersebut bisa membahayakan diri sendiri dan
orang lain.
Muhammad Bagas
Dirgantara juga menjelaskan bahwa keselamatan di pesawat menjadi tanggung jawab
awak kabin, termasuk pilot, pramugari, dan pramugara. Sementara itu, di
bandara, keselamatan dijaga oleh berbagai unit seperti AvSec yang mengawasi
keamanan lingkungan, ATC yang mengatur lalu lintas udara, AMC yang memantau
pergerakan pesawat di apron, dan ARFF yang siap menghadapi kondisi darurat
seperti kecelakaan atau kebakaran.
Untuk
meningkatkan kesadaran, maskapai telah menayangkan video edukatif mengenai
aturan penerbangan dan barang terlarang. Namun, penumpang juga diharapkan aktif
memahami dan mematuhi peraturan demi keselamatan bersama.
Sabtu, 22 Maret 2025
Kenaikan Harga Menjelang Lebaran Pedagang dan Pembeli Sama- Sama Terbebani
Pasar Kepuh, Kuningan, 23 Maret 2025 – Menjelang Idul Fitri, harga sejumlah bahan pokok mengalami kenaikan signifikan hingga mencapai 20 persen. Kondisi ini mengharuskan pedagang untuk menaikkan harga jual agar tidak merugi, sementara masyarakat, khususnya pembeli, harus merogoh kocek lebih dalam untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Diki, pemilik Toko Sembako Aris, menyebutkan beberapa bahan pokok yang mengalami lonjakan harga meliputi beras, telur, gula, minyak goreng, emping, dan kacang. Menurutnya, kenaikan ini disebabkan oleh tingginya permintaan menjelang Lebaran, sementara pasokan terbatas.
“Kenaikannya bisa mencapai sekitar 20 persen. Misalnya, harga beras yang biasanya Rp13.000 per kilogram, sekarang naik menjadi Rp14.000. Meskipun perbedaannya hanya Rp1.000 atau Rp2.000, itu sangat signifikan bagi konsumen,” ujar Diki.
Diki mengakui bahwa dampak dari kenaikan harga ini dirasakan oleh kedua belah pihak. “Kalau harga naik, kita juga harus naikin harga jualnya biar nggak rugi, tetapi pembeli juga mengeluh karena harus bayar lebih mahal,” tambahnya.
Selain itu, Diki menjelaskan bahwa untuk mengatasi dampak dari kenaikan harga ini, dirinya menyimpan modal dalam bentuk tabungan yang bisa digunakan saat kondisi pasar tidak menentu. Ia juga berharap harga-harga kembali stabil setelah Lebaran.
Berdasarkan pengalaman sebelumnya, harga-harga sembako biasanya akan kembali turun sekitar tiga minggu hingga satu bulan setelah Lebaran. "Semoga kali ini juga bisa kembali normal seperti biasanya," tutupnya.
Ramadan Membawa Ramai, Pedagang Sayur Lansia di Pasar Cikijing Kewalahan Layani Pembeli
Majalengka, 23 Maret 2025 — Memasuki bulan suci Ramadan, aktivitas di Pasar Cikijing, Kecamatan Cikijing, Kabupaten Majalengka, tampak jauh lebih padat dari hari-hari biasa. Warga mulai memadati pasar sejak pagi hari demi mendapatkan kebutuhan pokok untuk sahur dan berbuka puasa. Lonjakan jumlah pembeli ini pun berdampak langsung pada pedagang-pedagang sayur yang menjadi tujuan utama masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dapur. Salah satu pedagang yang merasakan langsung dampaknya adalah Ijah (65), seorang penjual sayur yang sudah berdagang di Pasar Cikijing. Pada Senin, 23 Maret 2025, Ijah mengaku kewalahan menghadapi membludaknya pembeli yang datang sejak sebelum matahari terbit. Lapaknya yang biasanya sepi di pagi hari, kini penuh sesak dengan pelanggan yang datang silih berganti. “Baru jam 3 pagi sudah banyak yang datang. Biasanya jam segitu masih santai. Sekarang buka lapak langsung diserbu,” ujar Ijah.. Ia mengaku harus menambah stok dan mempercepat pelayanan agar bisa melayani seluruh pelanggan dengan baik. Lonjakan ini bukan tanpa sebab. Ramadan memang selalu menjadi momen di mana kebutuhan masyarakat meningkat, terutama untuk bahan makanan segar. Menu sahur dan berbuka yang lebih variatif membuat belanja harian tak terhindarkan. Selain itu, sebagian masyarakat memilih berbelanja pagi-pagi sekali agar tidak kehabisan barang, dan juga menghindari cuaca panas di siang hari. Proses lonjakan pengunjung sudah mulai terasa sejak hari pertama Ramadan. Namun, lonjakan paling tinggi terjadi di pertama puasa, saat masyarakat mulai lebih aktif mempersiapkan berbagai hidangan berbuka dan sahur. Tak hanya pembeli yang bertambah, pedagang musiman dari luar daerah pun mulai berdatangan dan membuka lapak dadakan di area pasar. Situasi ini menambah keramaian sekaligus tantangan bagi pedagang tetap seperti Ijah. Selain harus bersaing dengan pedagang baru, ia juga harus melayani pelanggan dengan lebih cepat dan tetap menjaga kualitas dagangan. "Saya bawa barang dua kali lipat dari biasanya, tapi tetap saja cepat habis." Ujar Ijah Menanggapi kondisi ini, pengelola pasar memberikan imbauan kepada seluruh pedagang agar tetap menjaga ketertiban, kebersihan, serta tidak menaikkan harga secara tidak wajar. Mereka juga meminta kerjasama dari semua pihak agar aktivitas jual beli tetap berjalan lancar dan nyaman bagi semua. Meski lelah, Ijah mengaku tetap bersyukur. Ramadan memang menjadi momen rezeki tersendiri bagi para pedagang. “Capek, iya. Tapi alhamdulillah, bisa dapat penghasilan lebih. Yang penting pembeli puas dan saya masih kuat,” ujarnya sambil tersenyum lelah namun tulus.
8 Hari Menjelang Idul Fitri, Pedagang Pakaian di Pasar Kepuh Keluhkan Penurunan Pendapatan Akibat Persaingan Online Shop
"Adore You": Cerpen Karya Penulis Muda Kuningan yang Diilhami Drama Korea Populer
Simpang Empat Purwawinangun: Surganya Takjil, Nerakanya Lalu Lintas?
Jumat, 21 Maret 2025
Anak Usia 10 Tahun Tenggelam dan Terbawa Arus di Sungai Sadamantra Kuningan, di Temukan Setelah 6 Hari
Kuningan, Jawa Barat – Seorang anak bernama Ananda Akbar berusia 10 tahun tenggelam dan terbawa arus di Sungai Sadamantra, Kuningan, pada Sabtu (15/3/2025) setelah berusaha menyelamatkan sandal temannya yang hanyut. Kejadian ini terjadi saat ia tengah bermain air bersama lima teman seusianya.
Menurut keterangan saksi, sebelum kejadian, Ananda Akbar dan kelima temannya bermain di lokasi yang dikenal sebagai "Tempat Adu Merpati" sekitar pukul 10.00 WIB. Menjelang waktu Dzuhur, ia berteduh di sebuah ruko di Pasar Sadamantra. Setelah hujan reda, tak jauh dari ruko tempat mereka berteduh, ia dan kelima temannya menyeberang ke sungai untuk bermain air.
"Dia tenggelam karena bantuin sandal temannya yang hanyut. Mungkin sudah takdirnya, nasibnya harus kecelakaan di situ. Dia hanyut ke parit lalu terbawa arus," ujar Pak Syahrikan, perangkat desa yang juga Wakil Ketua Mitra Makmur.
Saat Ananda Akbar tenggelam dan terseret arus, teman-temannya berteriak meminta pertolongan. Lalu ada seorang warga bernama Pak Hadim, yang sering membeli pisang ke Sembawa, mendengar teriakan anak-anak itu.
"Ada bapak-bapak yang suka beli pisang ke Sembawa, namanya Pak Hadim. Dia yang menelepon saya dan memberi tahu ada anak yang hanyut. Saat itu saya sedang tidur, dia menelepon sekitar pukul 13.00 siang," ujar Pak Syahrikan.
Upaya pencarian dilakukan selama enam hari hingga akhirnya korban ditemukan di daerah Katiga, Ciniru, pada Jum’at (21/3/2025) dalam kondisi tubuh yang sudah membengkak dua kali lipat dari ukuran normal.
“Alhamdulillahnya Bapak Bupati Kuningan termasuk Ibu Wakil Bupatinya takziah datang ke rumah Ananda Akbar,” ujar Pak Syahrikan. Kejadian ini juga dapat menjadi pengingat bagi masyarakat agar lebih berhati-hati saat beraktivitas di sekitar sungai, terutama di musim hujan yang meningkatkan risiko arus deras, serta menasihati anak-anak kita yang memang sering bermain jauh.
Toko Bunga Kuningan Banjir Pesanan Sambut Pelantikan Bupati Kuningan 2025
KUNINGAN – Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., dan Tuti Andrian, S.H., M. Kn., resmi dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati Kuningan periode 2025–2030 pada Kamis, 20 Februari 2025 di Istana Negara, Jakarta. Pelantikan tersebut memberi dampak positif yang signifikan bagi pelaku usaha lokal, salah satunya Toko Bunga Kuningan yang dikelola oleh Naelin Alviana. Toko bunga ini mengalami lonjakan pesanan karangan bunga dari berbagai instansi dan perusahaan sejak tiga hari sebelum acara pelantikan.
Meskipun pada saat itu Bupati dan Wakil Bupati masih melakukan retret di Magelang, pengiriman karangan bunga tetap berlangsung ke Kantor Bupati Kuningan sebagai bentuk ucapan selamat dan sukses dari berbagai pihak.
Tiga hari sebelum acara pelantikan, pesanan karangan bunga mulai mengalami lonjakan. Namun, pelantikan yang awalnya dijadwalkan pada Februari 2025 diundur ke Maret 2025, karena masih ada hasil Pilkada serentak yang berproses di Mahkamah Konstitusi (MK). Perubahan jadwal yang mendadak membuat pemilik usaha harus bekerja secara ekstra.
“H-3 sebelum pelantikan sudah mulai banyak pesanan yang masuk. Kami kewalahan karena tidak prepare terlebih dahulu, sehingga pengiriman berlangsung selama satu sampai tiga hari,” ujar Naelin Alviana, pemilik Toko Bunga Kuningan.
Sebagian besar pesanan karangan bunga berasal dari kantor, instansi pemerintahan, dan perusahaan. Selain itu, ada juga pemesanan dari perorangan, serta pihak-pihak dari luar daerah yang turut mengirimkan ucapan selamat.
“Dominan pemesanan dari kantor, instansi pemerintahan atau dari nama perusahaan. Nama perorangan juga ada, tapi hampir semua perusahaan atau instansi pemerintahan mengucapkan selamat dan sukses, termasuk dari luar kota juga ada,” jelas Naelin.
Karangan bunga yang dipesan melalui Toko Bunga Kuningan dan toko-toko lainnya dipajang di Kantor Bupati Kuningan, yang menjadi lokasi utama acara pelantikan.
“Untuk tempatnya di Kantor Bupati,” kata Naelin singkat.
Meningkatnya permintaan karangan bunga dalam acara ini disebabkan oleh pelantikan yang merupakan peristiwa penting dan berlangsung lima tahun sekali.
“Karena acara ini acara penting, acara yang besar juga dan acara ini terjadinya sangat jarang hanya lima tahun sekali. Mungkin di kesempatan ini, banyak perusahaan atau instansi pemerintahan yang ingin mengucapkan selamat dan sukses untuk Bapak dan Ibu Bupati yang terpilih,” ujar Naelin.
Untuk mengatasi lonjakan pesanan, Toko Bunga Kuningan menambah tenaga kerja sementara guna mempercepat produksi dan pengiriman pesanan.
“Biasanya kami mengerjakan pesanan satu sampai tiga orang saja. Tetapi karena permintaannya banyak kita menambah tenaga kerja yang sudah berpengalaman dan mampu mengejar waktu. Namun, jika tetap tidak terkejar kita biasanya menyarankan untuk pengiriman besok atau mencari toko bunga yang lain yang di luar daerah, karena yang di dalam daerah sudah pasti padat juga,” ungkap Naelin.
Pelantikan Bupati Kuningan 2025 bukan hanya menjadi momen politik penting, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi pengusaha lokal. Toko Bunga Kuningan menjadi salah satu bisnis yang merasakan manfaat dari acara ini, meskipun dihadapkan dengan tantangan dalam memenuhi pesanan yang membludak secara mendadak.
Aku Ingin Masyarakat Indonesia Serius Mengikis Pembajakan Buku
Pendahuluan Obral buku bajakan akan tetap laris terutama ketika harga buku asli dirasa begitu mencekik. Situasi ini kerap dialami ol...









