Gerobaknya kecil, rodanya berderit pelan, dan di
atasnya hanya ada panci berisi cilok, botol saus kacang, dan tusuk-tusuk bambu.
Namun, dari balik gerobak itu, tersembunyi kisah keteguhan dan kasih yang tak
henti dibagikan. Ia adalah Pak Samsudin, penjual cilok yang lebih dikenal
dengan panggilan Mang Udin, sosok yang tak asing lagi di lingkungan kampus
tempat ia berjualan.
Pak Samsudin bukanlah tokoh besar. Ia bukan pemilik
usaha kuliner viral, bukan juga pedagang dengan omzet jutaan rupiah per hari.
Namun selama lebih dari satu dekade, ia telah menjadi bagian dari keseharian
banyak mahasiswa. Tak terhitung berapa banyak anak muda yang mengenalnya, yang
menyapanya di sela jam kuliah, dan yang mengaitkan aroma cilok hangat dengan
kenangan masa kampus mereka.
Lahir pada tahun 1960, Pak Samsudin kini telah
memasuki usia 65 tahun. Di usia yang tak lagi muda, ia tetap berjualan setiap
hari. Ia tinggal bersama istrinya di daerah Windusengkahan, sebuah kawasan
sederhana yang menjadi saksi rutinitas mereka sejak pagi. Meski hidup berdua
tanpa anak, mereka menjalani hari-hari dengan saling melengkapi. Tak ada
keluhan, tak ada penyesalan, hanya ucapan syukur yang terus terulang. Kami
saling mengayomi.
Keseharian mereka dimulai sejak pukul enam pagi.
Istrinya bangun lebih awal untuk menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan.
Dari berbelanja bahan, mengolah adonan cilok, merebus, meracik sambal kacang,
hingga menatanya rapi dalam wadah dagangan semuanya dilakukan oleh sang istri.
Sementara itu, Pak Samsudin bersiap mendorong gerobaknya. Biasanya, ia selesai
berjualan sekitar pukul satu atau dua siang. Jika dagangan hari itu tidak
habis, maka akan ia jual kembali keesokan harinya. Semua dijalani dengan sabar,
tanpa merasa harus mengeluh.
Namun sebelum menjual cilok, Pak Samsudin lebih dulu
menekuni usaha kacang rebus, yang telah ia jalani sejak tahun 1984. Selama
puluhan tahun ia menyusuri jalanan sebagai pedagang kaki lima. Ia tahu rasanya
panasnya aspal, dinginnya pagi, dan kerasnya bertahan hidup tanpa jaminan
pendapatan. Meski begitu, ia tetap konsisten dan tidak berpaling dari jalan
hidupnya.
Baru pada tahun 2011, ia mulai menjual cilok. Saat
itu, permintaan jajanan ini mulai meningkat, dan ia pun melihat peluang baru.
Sejak saat itu, selama lebih dari 14 tahun, ia terus menjajakan cilok keliling
di kawasan kampus yang kini menjadi bagian dari hidupnya.
Pak Samsudin bukan hanya hadir secara fisik di
kampus, tapi juga dalam ingatan banyak mahasiswa. Ia menyaksikan generasi demi
generasi berganti, dari mahasiswa baru yang pertama kali membeli cilok, hingga
mereka yang akhirnya lulus dan bekerja. “Masih ada yang nyapa. Masih kangen,”
katanya saat ditanya apakah mahasiswa lama masih mengingatnya.
Ia mengenal mereka bukan hanya sebagai pembeli, tapi
sebagai teman dan beberapa di antaranya hanya disebut berdasarkan nama jurusan atau
mengingat wajahnya saja. Ia juga mengenal dosen-dosen dan staf kampus yang
pernah menjadi pelanggannya. Hubungannya dengan mereka bersifat manusiawi,
saling menghormati, dan penuh keakraban. Bagi Pak Samsudin, mereka semua adalah
bagian dari kehidupannya sehari-hari.
Namun, perjalanan itu tidak selalu mulus. Ketika
pandemi COVID-19 melanda, ia sempat dilarang masuk kampus. Itu adalah masa
sulit. Tidak ada tempat berjualan, tidak ada mahasiswa yang lewat, dan tentu
saja tidak ada pendapatan. Meski demikian, ia tidak pernah kehilangan semangat.
Ia tetap mencoba berdagang di luar area kampus dan bertahan sebisanya. Setelah
pembatasan dilonggarkan, ia kembali hadir di kampus. Mahasiswa-mahasiswa lama
yang dulu sering membeli darinya, kini menyapanya kembali. Itu menjadi momen
yang sangat berarti baginya.
Penghasilan yang ia dapat dari menjual cilok
tidaklah besar. Dalam sehari, ia bisa membawa pulang sekitar Rp200.000 hingga
Rp250.000, tergantung seberapa banyak yang terjual. Jumlah itu digunakan untuk
makan dan memenuhi kebutuhan rumah tangga. Tidak ada tabungan berlebih, tidak
ada bisnis sampingan. Namun, sekali lagi, ia tak pernah mengeluh.
“Dulu sehari bisa habis. Sekarang dua hari baru
habis,” katanya, menggambarkan perubahan daya beli atau mungkin selera pasar
yang berubah. Tapi baginya, asalkan masih bisa berjualan, itu sudah cukup. Ia
tidak mengejar kekayaan, hanya ingin tetap sehat dan bisa menjalani hidup
bersama istrinya.
Yang membuat kisah Pak Samsudin begitu menyentuh
adalah ketulusannya. Ia tidak pernah merasa bahwa pekerjaannya itu diposisi
yang rendah. Justru sebaliknya, ia bangga bisa bertahan, bisa dikenal, dan bisa
memberi kenangan kecil untuk orang lain. Tidak banyak orang yang bisa menjalani
hidup dengan cara seperti itu jujur, konsisten, dan tanpa menuntut balasan apa
pun.
Menjelang akhir wawancara, Pak Samsudin memberikan
pesan untuk para mahasiswa yang menjadi pelanggannya selama ini. Suaranya
terdengar ringan tapi sarat makna. “Saya doakan semua mahasiswa saya sukses,
sehat selalu, dan cepat dapat kerja,” katanya. Ia tahu mereka datang dan pergi,
tapi ia selalu menyisakan tempat dalam doanya untuk mereka.
Di balik setiap tusuk cilok yang ia jual, ternyata
terselip doa dan harapan. Ia mungkin tidak punya gelar, tidak punya jabatan,
tapi punya hati yang mendoakan setiap mahasiswa yang lewat di hadapannya.
Bagi Pak Samsudin, dagangannya bukan hanya soal
makanan. Itu adalah bentuk pengabdian. Ia hadir setiap hari, menyapa dengan
senyum, dan diam-diam menjadi bagian dari perjalanan hidup orang lain.
Pak Samsudin
atau Mang Udin adalah satu dari sedikit orang yang hadir tanpa pamrih, tapi
memberikan dampak besar. Ia adalah penjaga memori kampus, penyelip doa di
antara cilok, dan pengingat bahwa kehidupan tidak harus besar untuk menjadi
berarti.
Oleh : Kelompok 6 PBSIC-23-01
Anggia Zalfa Afifah 20230110048
Dini Damayanti 20230110032
Khalid Naufal Adani 20230110029
Neneng Nurul Aini 20230110045
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Kuningan