Tulis-Tulis

Hasil Karya Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan.

Tulis-Tulis

Hasil Karya Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan.

Tulis-Tulis

Hasil Karya Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan.

Tulis-Tulis

Hasil Karya Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan.

Tulis-Tulis

Hasil Karya Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan.

Tampilkan postingan dengan label feature. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label feature. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Juni 2025

Kehidupan Mengalir di Pasar Baru Kuningan Jawa Barat

Kuningan, 10 Juni 2025 – Pasar Kepuh yang terletak di Kabupaten Kuningan kembali menunjukkan geliat aktivitas warganya. Sejak pagi hari, suasana pasar dipenuhi oleh interaksi antara pedagang dan pembeli yang berlangsung dalam suasana hangat dan dinamis.

Sebagai salah satu pasar tradisional yang masih bertahan di tengah arus modernisasi, Pasar Kepuh memainkan peran penting dalam roda perekonomian masyarakat lokal. Pasar ini menjadi sentra utama distribusi hasil pertanian dan perdagangan sayur-mayur, yang sebagian besar didatangkan langsung dari kebun petani setempat maupun dari pasar induk.

Aktivitas di pasar sudah dimulai bahkan sebelum matahari terbit. Para pedagang datang lebih awal untuk menata dagangan mereka di atas meja-meja kayu sederhana. Berbagai jenis sayuran segar seperti bayam, kangkung, tomat, cabai, hingga daun bawang, tersusun rapi dan menarik perhatian pembeli sejak pagi.

Selain sebagai tempat transaksi jual beli, pasar ini juga menyimpan beragam kisah perjuangan para pedagang kecil. Beberapa di antaranya menggantungkan harapan besar dari hasil berdagang, seperti menyekolahkan anak hingga menabung untuk kehidupan yang lebih layak.

Suasana khas pasar tradisional pun tampak hidup dengan riuhnya proses tawar-menawar antara pedagang dan pembeli. Meski dilakukan dengan santai dan diselingi canda, proses ini mencerminkan nilai-nilai kejujuran dan kedekatan sosial yang masih terjaga erat. “Di pasar ini, semua terasa seperti keluarga. Tak ada sekat antara penjual dan pembeli,” ungkap salah satu pengunjung.

Namun, dinamika ekonomi yang terjadi juga membawa tantangan tersendiri. Beberapa pedagang mengeluhkan penurunan jumlah pembeli saat harga-harga mulai naik.

“Kalau harga sayur lagi naik, pembeli jadi berkurang. Kadang yang biasanya beli dua ikat, jadi cuma satu. Bahkan ada yang batal beli karena mahal,” ujar Ibu Beta. 

Keberadaan pasar tradisional seperti Pasar Kepuh bukan hanya sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari warga, tetapi juga menjadi ruang sosial yang mempererat hubungan antarindividu dan menjaga budaya lokal.

Di tengah derasnya arus digitalisasi dan pola konsumsi yang semakin instan, Pasar Kepuh masih mampu mempertahankan fungsinya sebagai pusat ekonomi kerakyatan. Aktivitas yang terjadi pada 10 Juni 2025 ini menjadi cermin nyata bahwa tradisi pasar rakyat masih relevan dan dibutuhkan oleh masyarakat.

Pasar, dengan segala kesederhanaannya, bukan hanya soal harga yang murah. Ia adalah tentang kehangatan, keberlangsungan, dan kisah-kisah kecil yang membentuk wajah besar Indonesia dari akar rumput.


Kelas PBSIC-02-2023 (Siang)

Anggota Kelompok:

1. Dena Widia (20230110051)

2. ⁠Melvindi Mutiara Dewi (20230110037)

3. ⁠M Fikri Al Giffari  (20230110047)

3. ⁠Restu Amelia (20230110027)

4. ⁠Virgio Ardanitya P (20230110034)

Kamis, 26 Juni 2025

CERITA SATPAM : Dianggap Musuh Oleh Mahasiswa?


“Kalau dianggap musuh, ya itu karena mereka melanggar aturan. Padahal kami ini menjaga harta-harta anda semua.” Satpam Universitas Kuningan
Wajah-wajah yang kerap terlihat di pintu gerbang, parkiran, atau di bawah panas matahari sering kali tak benar-benar diperhatikan. Mereka yang berseragam dan berdiri tegak dengan wajah serius. Tapi siapa sangka, di balik tubuh tegap dan suara tegas mereka, tersimpan cerita tentang dedikasi, pengorbanan, bahkan hal-hal tak terduga yang mengundang tawa. Di Universitas Kuningan, tiga satpam dengan kisah dan kepribadian berbeda, bersatu dalam satu panggilan: menjaga keamanan kampus dan kenyamanan semua warganya, terutama mahasiswa.

Tedi Kusdianto telah menjaga kampus sejak tahun 2000, artinya lebih dari 24 tahun ia menyaksikan pergerakan mahasiswa, perubahan sistem, hingga wajah-wajah baru di lingkungan kampus. Pria paruh baya ini tidak menyebut profesinya sebagai pilihan awal. “Ini karena kebutuhan hidup, bukan karena pilihan karier,” ujarnya jujur. Namun, dalam perjalanan waktu, ia membuktikan bahwa keterpaksaan bisa tumbuh menjadi ketulusan.

Ia menceritakan salah satu pengalaman yang tak bisa ia lupakan di mana patroli malam yang berubah menjadi pengalaman spiritual. “Ada aura negatif yang menarik kaki saya, melangkah pun terasa berat. Saya lawan dengan membaca ayat kursi,” tuturnya. Di waktu yang berbeda, ia juga kerap menjadi penengah ketika ada konflik kecil antar mahasiswa atau saat kehilangan barang. Ia percaya, satpam bukan hanya soal menjaga gerbang, tetapi menjaga rasa aman, bahkan ketika rasa aman itu tak selalu tampak.

Berbeda dari Tedi Kusdianto yang lebih senior, Ardi Mardiansyah telah menjadi satpam di UNIKU selama 10 tahun lebih, namun pendekatannya sangat aktif dan berorientasi solusi. Tugas utamanya berfokus pada parkiran, area yang menjadi pusat dinamika antara peraturan dan kebiasaan mahasiswa yang "ngeyel".
“ketika kita dari Satpam sudah mengarahkan ada ya kejadian lucunya gitu bilang mau pulang tapi balik lagi karena dari sininya ada yang jaga lagi dari sebelah fakultas yang mungkin mahasiswa itunya yang mau masuk ke area kelasnya jadi disuruh balik lagi ternyata dia kan bohong ” katanya sambil geleng-geleng kepala. Menurut Ardi, tantangan terbesar bukan hanya soal pelanggaran, tapi bagaimana menyampaikannya dengan cara yang bisa diterima mahasiswa. Ia percaya kunci hubungan baik adalah sopan tapi tegas. “Kalau kita ngomongnya enak, mahasiswa juga enggak akan melawan,” ujarnya.
Namun Ardi juga menyadari bahwa satu kesalahan dari satu satpam bisa merusak nama baik semuanya. “Ada yang disangka galak, lalu semua satpam dianggap sama. Padahal karakter kami beda-beda,” katanya dengan nada tenang.

Beni Hidayat menyebut dirinya sudah dua dekade menjadi satpam di Universitas Kuningan. Ia menyimpan cerita paling lucu sekaligus menyentuh: pernah disangka bujangan oleh mahasiswa. Bahkan sempat diajak main ke rumah mahasiswa karena dikira masih single.
“Padahal saya sudah punya istri!” katanya tertawa lepas.

Namun kisah yang paling sering ia alami adalah mahasiswa yang mengira motornya hilang padahal lupa naruh. “Panik, lapor ke saya. Setelah saya suruh ingat-ingat, ternyata motornya diparkir di tempat lain. Itu sering banget,” ujarnya. Meski begitu, Beni tak merasa risih. Ia justru menanggapi semua itu dengan ramah, meski tetap berhati-hati. “Yang penting kita tetap tenang. Jangan panik, karena kalau kita panik, mahasiswa tambah bingung.” Bagi Beni, menjadi satpam bukan soal kuasa, tapi soal mengerti bahwa orang datang ke kampus dengan latar belakang berbeda, dan kadang dengan ego yang berbeda juga.
Ketiganya sepakat bahwa menjadi satpam di kampus bukan pekerjaan yang mudah. Mereka kerap menjadi pihak yang disalahkan saat terjadi sesuatu, seperti kehilangan kendaraan atau pelanggaran parkir.

“Padahal kita cuma menjalankan aturan dari lembaga. Tapi kalau ada apa-apa, yang disalahkan duluan ya satpam,” kata Tedi Kusdianto. Ketika ada kegiatan besar, seperti seminar atau acara kampus, tantangan bertambah. “Banyak orang luar masuk, kadang tak mau lapor. Kalau terjadi pencurian atau kehilangan, nama baik kampus juga kena. Jadi kita harus ekstra waspada,” jelas Ardi.
Bahkan ketika mereka ingin menegakkan aturan, mereka tetap dihadapkan pada mahasiswa yang merasa lebih tahu. “Kadang mahasiswa ngerasa benar terus. Enggak semua sih, tapi yang suka ngelanggar itu biasanya enggak terima kalau ditegur,” tambah Beni.

Meski penuh tantangan, mereka tetap setia di pos masing-masing. Karena mereka percaya, tugas yang mereka emban bukan sekadar menjaga pagar atau memarkir kendaraan, tapi menjaga nilai-nilai ketertiban, kedisiplinan, dan keamanan.
“Harusnya kami bukan dianggap musuh. Tapi sahabat mahasiswa,” kata Tedi Kusdianto mantap. “Karena kami menjaga harta kalian juga. Motor kalian, keamanan kalian, itu tanggung jawab kami.” Tambah Beni Hidayat 
Pesan mereka sederhana, namun dalam:
“Saling hargai saja. Kami satpam di sini untuk bantu, bukan untuk mempersulit. Kalau semua mengikuti aturan, kita bisa sama-sama menjaga kampus ini jadi tempat belajar yang aman, nyaman, dan bersahabat.”

Tiga satpam. Tiga cerita. Dari yang lucu hingga mistis, dari yang emosional hingga profesional. Mereka ada di balik layar rutinitas mahasiswa. Bekerja dalam diam, kadang jadi sasaran, tapi tetap berdiri di pos dengan rasa tanggung jawab yang tidak kecil. Mungkin, sudah waktunya mahasiswa menoleh sejenak bukan untuk ditegur, tapi untuk tersenyum dan menyapa balik mereka yang selalu ada di gerbang kampus setiap pagi.

Oleh: Meta Pitriani, Moh. Syahrul Gunawan, Nurhana Alda Fadilah
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Kuningan

Pejuang Nafkah: Hangatnya Cilok, Hangatnya Perjuangan Hidup

 


Gerobaknya kecil, rodanya berderit pelan, dan di atasnya hanya ada panci berisi cilok, botol saus kacang, dan tusuk-tusuk bambu. Namun, dari balik gerobak itu, tersembunyi kisah keteguhan dan kasih yang tak henti dibagikan. Ia adalah Pak Samsudin, penjual cilok yang lebih dikenal dengan panggilan Mang Udin, sosok yang tak asing lagi di lingkungan kampus tempat ia berjualan.

Pak Samsudin bukanlah tokoh besar. Ia bukan pemilik usaha kuliner viral, bukan juga pedagang dengan omzet jutaan rupiah per hari. Namun selama lebih dari satu dekade, ia telah menjadi bagian dari keseharian banyak mahasiswa. Tak terhitung berapa banyak anak muda yang mengenalnya, yang menyapanya di sela jam kuliah, dan yang mengaitkan aroma cilok hangat dengan kenangan masa kampus mereka.

Lahir pada tahun 1960, Pak Samsudin kini telah memasuki usia 65 tahun. Di usia yang tak lagi muda, ia tetap berjualan setiap hari. Ia tinggal bersama istrinya di daerah Windusengkahan, sebuah kawasan sederhana yang menjadi saksi rutinitas mereka sejak pagi. Meski hidup berdua tanpa anak, mereka menjalani hari-hari dengan saling melengkapi. Tak ada keluhan, tak ada penyesalan, hanya ucapan syukur yang terus terulang. Kami saling mengayomi.

Keseharian mereka dimulai sejak pukul enam pagi. Istrinya bangun lebih awal untuk menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan. Dari berbelanja bahan, mengolah adonan cilok, merebus, meracik sambal kacang, hingga menatanya rapi dalam wadah dagangan semuanya dilakukan oleh sang istri. Sementara itu, Pak Samsudin bersiap mendorong gerobaknya. Biasanya, ia selesai berjualan sekitar pukul satu atau dua siang. Jika dagangan hari itu tidak habis, maka akan ia jual kembali keesokan harinya. Semua dijalani dengan sabar, tanpa merasa harus mengeluh.

Namun sebelum menjual cilok, Pak Samsudin lebih dulu menekuni usaha kacang rebus, yang telah ia jalani sejak tahun 1984. Selama puluhan tahun ia menyusuri jalanan sebagai pedagang kaki lima. Ia tahu rasanya panasnya aspal, dinginnya pagi, dan kerasnya bertahan hidup tanpa jaminan pendapatan. Meski begitu, ia tetap konsisten dan tidak berpaling dari jalan hidupnya.

Baru pada tahun 2011, ia mulai menjual cilok. Saat itu, permintaan jajanan ini mulai meningkat, dan ia pun melihat peluang baru. Sejak saat itu, selama lebih dari 14 tahun, ia terus menjajakan cilok keliling di kawasan kampus yang kini menjadi bagian dari hidupnya.

Pak Samsudin bukan hanya hadir secara fisik di kampus, tapi juga dalam ingatan banyak mahasiswa. Ia menyaksikan generasi demi generasi berganti, dari mahasiswa baru yang pertama kali membeli cilok, hingga mereka yang akhirnya lulus dan bekerja. “Masih ada yang nyapa. Masih kangen,” katanya saat ditanya apakah mahasiswa lama masih mengingatnya.

Ia mengenal mereka bukan hanya sebagai pembeli, tapi sebagai teman dan beberapa di antaranya hanya disebut berdasarkan nama jurusan atau mengingat wajahnya saja. Ia juga mengenal dosen-dosen dan staf kampus yang pernah menjadi pelanggannya. Hubungannya dengan mereka bersifat manusiawi, saling menghormati, dan penuh keakraban. Bagi Pak Samsudin, mereka semua adalah bagian dari kehidupannya sehari-hari.

Namun, perjalanan itu tidak selalu mulus. Ketika pandemi COVID-19 melanda, ia sempat dilarang masuk kampus. Itu adalah masa sulit. Tidak ada tempat berjualan, tidak ada mahasiswa yang lewat, dan tentu saja tidak ada pendapatan. Meski demikian, ia tidak pernah kehilangan semangat. Ia tetap mencoba berdagang di luar area kampus dan bertahan sebisanya. Setelah pembatasan dilonggarkan, ia kembali hadir di kampus. Mahasiswa-mahasiswa lama yang dulu sering membeli darinya, kini menyapanya kembali. Itu menjadi momen yang sangat berarti baginya.

Penghasilan yang ia dapat dari menjual cilok tidaklah besar. Dalam sehari, ia bisa membawa pulang sekitar Rp200.000 hingga Rp250.000, tergantung seberapa banyak yang terjual. Jumlah itu digunakan untuk makan dan memenuhi kebutuhan rumah tangga. Tidak ada tabungan berlebih, tidak ada bisnis sampingan. Namun, sekali lagi, ia tak pernah mengeluh.

“Dulu sehari bisa habis. Sekarang dua hari baru habis,” katanya, menggambarkan perubahan daya beli atau mungkin selera pasar yang berubah. Tapi baginya, asalkan masih bisa berjualan, itu sudah cukup. Ia tidak mengejar kekayaan, hanya ingin tetap sehat dan bisa menjalani hidup bersama istrinya.

Yang membuat kisah Pak Samsudin begitu menyentuh adalah ketulusannya. Ia tidak pernah merasa bahwa pekerjaannya itu diposisi yang rendah. Justru sebaliknya, ia bangga bisa bertahan, bisa dikenal, dan bisa memberi kenangan kecil untuk orang lain. Tidak banyak orang yang bisa menjalani hidup dengan cara seperti itu jujur, konsisten, dan tanpa menuntut balasan apa pun.

Menjelang akhir wawancara, Pak Samsudin memberikan pesan untuk para mahasiswa yang menjadi pelanggannya selama ini. Suaranya terdengar ringan tapi sarat makna. “Saya doakan semua mahasiswa saya sukses, sehat selalu, dan cepat dapat kerja,” katanya. Ia tahu mereka datang dan pergi, tapi ia selalu menyisakan tempat dalam doanya untuk mereka.

Di balik setiap tusuk cilok yang ia jual, ternyata terselip doa dan harapan. Ia mungkin tidak punya gelar, tidak punya jabatan, tapi punya hati yang mendoakan setiap mahasiswa yang lewat di hadapannya.

Bagi Pak Samsudin, dagangannya bukan hanya soal makanan. Itu adalah bentuk pengabdian. Ia hadir setiap hari, menyapa dengan senyum, dan diam-diam menjadi bagian dari perjalanan hidup orang lain.

 Pak Samsudin atau Mang Udin adalah satu dari sedikit orang yang hadir tanpa pamrih, tapi memberikan dampak besar. Ia adalah penjaga memori kampus, penyelip doa di antara cilok, dan pengingat bahwa kehidupan tidak harus besar untuk menjadi berarti.

 

Oleh : Kelompok 6 PBSIC-23-01
Anggia Zalfa Afifah 20230110048
Dini Damayanti 20230110032
Khalid Naufal Adani 20230110029
Neneng Nurul Aini 20230110045

Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Kuningan 


Langkah Badut, Langkah Hidup - Kisah Inspiratif di Balik Senyum yang Tak Pernah Pudar




Kuningan, 3 Juni 2025 — Di tengah riuhnya jalanan, sosok berwarna kuning cerah dengan senyuman khas badut Pikachu sering kali menyita perhatian anak-anak. Namun, di balik kostum lucu dan senyuman Pikachu itu, tersembunyi kisah perjuangan seorang pria bernama Rudi, atau yang sering dipanggil sebagai Om Badut.

Rudi, pria 31 tahun asal Sindang Agung, Kabupaten Kuningan, memulai profesinya sebagai badut sejak tahun 2020. Awalnya, pilihan ini bukanlah cita-cita, melainkan jalan cepat terhadap situasi mendesak saat pandemi COVID-19 yang membuat lapangan kerja semakin sempit. “Waktu itu cari kerja susah banget.” ungkapnya, “Jadi, saya kepikiran buat ngebadut aja, yang penting halal.”

Setiap harinya, Rudi memulai aktivitas dari jam 10 pagi hingga malam, kadang sampai pukul 9 malam tergantung cuaca. Lokasi yang selalu ia tempati adalah sekitaran SPBU, terutama SPBU Sindang Agung dan Taman Kota Kuningan, pada saat malam minggu yang cukup ramai pengunjung. Tak jarang ia juga tampil pada saat Car Free Day dan acara tertentu seperti ulang tahun anak-anak. Ia memiliki penghasilan yang tak menentu, berkisar Rp50.000 hingga Rp70.000 per hari. Namun, jika dalam acara ulang tahun bisa mencapai Rp300.000.

Meski mengenakan kostum badut tampak menyenangkan dari luar, kenyataannya tak semudah itu. Kostum yang tebal membuat tubuh cepat panas dan gerah. ”Kalau nggak biasa, sepuluh menit aja udah mau pingsan” katanya sambil tertawa. Tantangan lain yang ia alami adalah stigma sosial, beberapa orang menganggap profesi badut sebagai sesuatu yang rendah, bahkan ia pernah mengalami kejadian yang tak mengenakkan, seperti dianggap mengganggu ketertiban hingga akhirnya diusir.

Namun di balik semua itu, ada kebahagiaan sederhana yang menjadi penunjang semangat Rudi, adalah tawa anak-anak. “Kadang anak kecil suka dorong-dorong badut, kita sampai jatuh dan guling-guling… tapi itu lucu banget, malah bikin senang,” ujarnya. Dekat dengan anak-anak, membuatnya merasa menjadi bagian dari kebahagiaan mereka.

Di sisi lain, Rudi menyadari bahwa pekerjaan ini bukan sesuatu yang bisa ia jalani selamanya. Ia menyimpan harapan untuk memiliki usaha yang lebih mapan di masa depan. ”Saya nggak pengen selamanya ngebadut. Mudah-mudahan ke depannya bisa punya usaha yang lebih layak.”  ujarnya.

Meski hidupnya jauh dari kata mudah, Rudi tetap memegang teguh nilai kejujuran dan kerja keras. Ia ingin menjadi contoh bagi generasi muda. ”Pesan saya, tetap semangat dan jangan malas. Sekolah yang rajin, kejar cita-cita. Jangan sampai nyesel kayak kita-kita ini dulu.” ujarnya dengan senyum.

Kisah Rudi adalah potret nyata tentang daya juang, keteguhan hati, dan semangat bertahan di tengah kesulitan. Lewat kostum badut Pikachu, ia bukan hanya menghibur, tapi juga mengajarkan bahwa setiap kerja keras, sekecil apapun layak dihargai.


Oleh: Dzikri Dwiky Abdilah, Ilham Alparizi, Intan Chaerul Bariyyah, Lena Sulistia Agustrianti.

Kisah Warung Pak Yadi: Bukan Sekedar Tempat Makan, Tapi Keluarga Kedua Bagi Mahasiswa

Di balik asap wangi ayam bakar yang setiap hari mengepul di depan Kampus 2 Universitas Kuningan, tersembunyi kisah sederhana namun menyentuh, milik seorang ibu bernama Bu Yadi. Bersama sang suami, Pak Yadi, ia mengelola sebuah warung makan kecil yang sudah lebih dari sepuluh tahun menjadi bagian dari kehidupan mahasiswa. Tidak hanya sebagai tempat makan, tetapi juga sebagai ruang nyaman tempat berbagi cerita, keluh kesah, bahkan tawa.

Warung Makan Pak Yadi berdiri sejak tahun 2013. Namun, seperti banyak kisah usaha kecil lainnya, awal mula warung ini bukanlah hasil dari perencanaan bisnis matang, melainkan lahir dari dorongan kebutuhan hidup. Saat itu, Pak Yadi bekerja sebagai security di Kampus 1 Universitas Kuningan, sementara Bu Yadi hanya tinggal di rumah. Melihat peluang dan ingin membantu ekonomi keluarga, Bu Yadi memberanikan diri mulai berjualan ayam. Situasi ini sejalan dengan penelitian dari Kurniawan, Putri, & Ghina (2020), bahwa modal usaha seperti finansial maupun kemampuan ekonomis sering menjadi motivasi utama bagi perempuan berwirausaha karena kebutuhan ekonomi keluarga.

“Daripada nganggur, ya saya coba jualan saja,” tutur Bu Yadi sambil tersenyum. Kala itu, mereka berjualan di area Kampus 1. Namun, beberapa tahun kemudian, warung mereka terpaksa pindah ke Kampus 2 karena konflik keluarga, yaitu lahan tempat mereka berjualan ikut terseret dalam sengketa warisan.

Meski harus pindah lokasi, semangat Bu Yadi dan Pak Yadi tak pernah goyah. Setiap Senin sampai Sabtu, mulai pukul 10 pagi hingga sekitar jam 3 sore, mereka membuka warungnya. Menu andalan mereka adalah satu paket makan yang isinya nasi, ayam bakar atau ayam goreng, kol goreng dan sambal rahasia yang menjadi ciri khas warung makan mereka, dan bisa didapatkan hanya dengan harga Rp10.000/porsi yang tak berubah meski harga bahan pokok terus naik.

“Kami nggak pernah naikin harga. Biar mahasiswa tetap bisa makan enak meski uangnya pas-pasan,” ujarnya.

Di Kampus 2, suasana terasa berbeda. Jika dulu di Kampus 1 pelanggan mereka mayoritas perempuan dan suka berlama-lama ngobrol, kini di Kampus 2 yang lebih banyak mahasiswa laki-laki, semua terasa cepat karena mereka hanya datang, makan, lalu pergi. “Di sini nggak ada yang ngerumpi, kebanyakan cowo” kata Bu Yadi terkekeh.

Namun meski waktunya singkat, relasi mereka dengan pelanggan tak pernah hilang. Ada saja mahasiswa yang curhat tentang kuliah, keluarga, bahkan soal cinta. Tak jarang pula, momen lucu menghiasi hari-hari mereka. Salah satunya adalah ketika seorang mahasiswa yang selama empat tahun menjadi pelanggan setia, tiba-tiba kembali hanya untuk bertanya, “Bu, nama Ibu sebenarnya siapa?” ujar Bu Yadi. Selain sebagai tempat makan, tempat ini juga menjadi ruang interaksi sosial penting bagi mahasiswa. Seperti dalam penelitian studi kasus Ishomuddin, Idris, dan Adi (2024), bahwa interaksi mahasiswa di kafe atau warung menciptakan pola kerja sama untuk tujuan bersama seperti diskusi tugas, berbagi informasi, maupun saling memberi dukungan emosional 

Dulu, saat masih di Kampus 1, mereka bisa menghabiskan hingga 50 kg ayam dalam sehari. Kini, di lokasi baru, penjualan berkisar antara 20 sampai 30 kg. Meski begitu, hasil jualan tetap cukup untuk menghidupi keluarga. Yang paling penting bagi Bu Yadi bukanlah besar kecilnya pemasukan, melainkan rasa berkah yang ia rasakan dari pekerjaan ini.

“Yang penting usaha ini berkah” ucapnya dengan penuh keyakinan.

Ketika ditanya soal rencana ke depan, Bu Yadi mengaku masih berharap bisa kembali berjualan di Kampus 1 jika ada lahan yang memungkinkan. Namun, ia tidak muluk-muluk. Baginya, selama bisa terus memasak dan melayani mahasiswa, itu sudah cukup.

“Semangat kuliahnya, fokus, lulus, terus jadi sarjana” pesannya untuk semua mahasiswa yang pernah dan masih mampir di warungnya. Warung Makan Pak Yadi memang sederhana. Namun dari tempat itu, tak hanya perut yang kenyang. Hati pun hangat dan tenang. Ia menjadi saksi diam dari perjuangan para mahasiswa, sekaligus cermin ketulusan dan kerja keras seorang ibu yang tak kenal lelah.


Referensi

Ishomuddin, F. N., Idris, I., & Adi, K. R. (2024). INTERAKSI SOSIAL MAHASISWA DI WARUNG KOPI (STUDI KASUS DI WARUNG KOPI ALAMMALAM). Jurnal Integrasi Dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial, 4(10), 3. https://doi.org/10.17977/um063v4i10p3.

Kurniawan, A., Putri, M. K., & Ginanjar, A. (2020). Identifikasi Motivasi Dan Hambatan Pada Wanita Pengusaha (studi Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia Kota Depok). Proceedings of Management, 7(1). 


Ditulis oleh: Alisa, Muhammad Rifqi Hidayat, Nayla Lailatul Mardiyah, Rossy Dwi Indriani


Selasa, 24 Juni 2025

Kuliner Kaki Lima, Rasa yang Menghidupkan Harapan



Di sela-sela deru kendaraan dan riuh kota yang tak pernah benar-benar tidur, sepasang tangan sibuk menata dagangan di atas trotoar sempit. Tak ada atap permanen, hanya payung lusuh penangkal terik dan hujan. Namun dari tempat itulah, pedagang kaki lima menggantungkan harapan. Bukan sekadar mencari nafkah, tapi merajut mimpi tentang pendidikan anak, rumah yang lebih layak, hingga kehidupan yang lebih tenang. Langkah mereka mungkin kecil, tapi semangatnya menghidupi denyut kota ini.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) provinsi Jawa Barat Pada tahun 2023, tercatat 16.485 unit usaha mikro dan kecil di Kabupaten Kuningan, mayoritas berupa pedagang kaki lima. Di balik angka tersebut, tersimpan perjuangan berat menghadapi keterbatasan modal, cuaca tak menentu, dan persaingan yang ketat. Meski menjadi tulang punggung ekonomi lokal, kehidupan mereka tetap rapuh dan sangat membutuhkan dukungan untuk bertahan dan berkembang.

Salah satu pedagang yang ditemui di lokasi mengungkapkan bahwa dirinya mulai berjualan di tempat tersebut sejak tahun 2021. Sebelumnya, ia sempat berjualan di sisi barat area itu, namun kemudian memutuskan untuk pindah ke lokasi sekarang demi mendapatkan tempat yang lebih strategis dan ramai pengunjung. “Awalnya saya bukan berjualan di sini, tapi di barat. Lalu pindah ke sini tahun 2021,” ujarnya. Ia mengaku cukup nyaman berjualan di lokasi saat ini meskipun tetap ada tantangan yang harus dihadapi.

Tantangan yang dimaksud terutama berkaitan dengan kondisi cuaca. Salah satu pedagang lainnya mengatakan bahwa meskipun secara umum tidak ada kesulitan besar dalam berdagang, namun ketika cuaca tidak mendukung seperti hujan deras yang turun dari siang hingga malam, aktivitas jual beli menjadi sangat sepi. “Kalau hujan dari siang sampai malam, ya begini lah resikonya orang dagang. Pembeli jadi malas keluar rumah,” tuturnya sambil merapikan barang dagangannya. Kondisi ini membuat para pedagang harus bersabar dan tetap berusaha semaksimal mungkin untuk menarik minat pelanggan di tengah cuaca yang tidak bersahabat.

Selain persoalan cuaca, ketersediaan tempat untuk berjualan juga menjadi perhatian penting bagi para pedagang. Seorang pedagang yang sudah berjualan selama lima tahun berharap agar pemerintah dapat memperhatikan kebutuhan para pelaku usaha kecil dengan menyediakan lahan atau tempat yang lebih luas dan layak. “Kalau bisa sih memperbanyak lahannya, supaya semua pedagang punya tempat berjualan yang layak,” katanya. Ia menilai bahwa ketersediaan tempat usaha yang memadai merupakan salah satu bentuk dukungan nyata dari pemerintah terhadap pengembangan ekonomi rakyat kecil.

Tak hanya itu, bagi sebagian pedagang, usaha yang mereka jalankan ini bukan sekadar mencari nafkah harian, melainkan juga sebagai harapan untuk masa depan keluarga. Salah seorang pedagang dengan penuh semangat menyampaikan harapannya agar usahanya bisa berkembang dan membuka cabang baru di masa depan. “Semoga saya bisa menambah cabang untuk menghidupi keluarga,” ujarnya sambil tersenyum. Harapan tersebut mencerminkan semangat dan tekad para pelaku usaha kecil dalam membangun kehidupan yang lebih baik, meski di tengah keterbatasan dan tantangan yang mereka hadapi setiap hari.

Di balik asap gorengan dan tumpukan piring plastik, tersimpan harapan yang tak pernah padam.
Bagi mereka, dagangan ini bukan sekadar soal makan, tapi tentang martabat, mimpi, dan masa depan.

Maka, saat kita menikmati makanan kaki lima, mari kita lihat lebih dalam. Ada tangan-tangan gigih yang bekerja, dan ada harapan yang terus menyala.

Kamis, 29 Mei 2025

Para Penjaga Jalanan


        


 Kuningan, 29 Mei 2025 Teriknya matahari menyengat, aspal terasa panas seperti panggangan. Kendaraan lalu-lalang sambil sesekali membunyikan klakson, Di tengah jalan yang sibuk, tukang parkir selalu membantu mengatur lalu lintas demi kelancaran bersama.

Jalan di daerah Cilaja memang rawan kecelakaan. Jaka Triatna (30), salah satu juru parkir, mengungkapkan bahwa pemilik Alfamart yang ada di jalan tersebut memintanya untuk menjaga area sekitar Alfamart dan simpang empat, karena toko tersebut tidak memiliki satpam.

Ketika sebagian orang khawatir akan premanisme dari tukang parkir, mereka cenderung menganggap tukang parkir sebagai preman jalanan yang hanya meminta uang secara paksa. Namun, Jaka menegaskan bahwa tidak semua tukang parkir seperti itu. Ia bahkan merasa dihargai oleh masyarakat sekitar. “Kalau di sini Alhamdulillah, anak-anak di sini gak kayak gitu.”

Jaka juga mengungkapkan bahwa tukang parkir di Alfamart tersebut tidak pernah memaksa pengendara untuk membayar. “Misalkan kalau ada yang ngasih ya Alhamdulillah, kalau ga dikasih ya kita mah nggak bakal ngomong nggak bakal apa”. Baginya, keselamatan pengendara jauh lebih penting, mengingat kondisi jalan rawan yang mendorong pengendara untuk memacu kendaraannya dengan cepat. Jika tidak ada tukang parkir, jumlah kecelakaan bisa semakin banyak.

Meskipun Jaka dan rekannya tidak memaksa, mereka tetap sering mendapat bayaran dari pengendara, bahkan kadang lebih dari yang diharapkan. Setiap tahunnya, mereka juga mengadakan santunan untuk anak-anak yatim piatu dari kas parkir. “Tiap tahun, ada misalkan santunan anak yatim piatu dari kas parkir.” Ujar Jaka

Di sini, para tukang parkir juga sudah mulai mendapat perhatian dari sisi perlindungan kerja. Mereka tidak hanya bekerja secara mandiri, tetapi juga terdaftar sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan. “Di sini saya punya BPJS Ketenagakerjaan, ada 8 orang dan sudah resmi,” ujar Jaka dengan bangga. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun pekerjaannya informal, mereka tetap berusaha untuk memiliki jaminan sosial demi keamanan di masa depan. 

Pekerjaan ini memang bukan untuk orang yang mentalnya belum kuat. Untuk menerima atau menjalani pekerjaan ini, dibutuhkan mental yang tangguh karena harus siap menghadapi berbagai omongan negatif dari orang-orang. “Kalau masih belum ada pekerjaan, janganlah ngikutin kita kayak gini, kalau belum cukup mental itu udah down.” Saran Jaka.

Namun hal ini tidak menghalangi Rohadi (32), rekan Jaka, untuk menjalani pekerjaan ini sebagai sampingan. Menurutnya, pekerjaan ini sangat membantu ekonomi keluarganya saat bengkel tempat ia bekerja sedang sepi. “Kerja di sini ya lumayan buat tambah-tambah pemasukan, buat istri dan anak.” Ujar Rohadi. Begitu pula dengan Jaka yang dulunya memiliki usaha warung. Ia tetap mengambil pekerjaan ini demi menambah penghasilan bagi keluarganya.

Disusun oleh: Kelompok 3
Dara Tisya Ningrum 
Fina Isnaini Syafiqa
Pauzan Eka Eswandi 
Satria Ramadhan


 

 

Sabtu, 15 Maret 2025

Tulis-Tulis.my.id: Wadah Kreatif Mahasiswa PBSI UNIKU


Di era digital seperti sekarang, menulis bukan hanya sekadar menuangkan ide, tetapi juga menjadi sarana berbagi pengetahuan dan menginspirasi banyak orang. Tulis-Tulis.my.id hadir sebagai wadah bagi mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Kuningan (UNIKU) untuk mengembangkan bakat menulis mereka dalam berbagai genre.

Apa Saja yang Bisa Ditemukan di Tulis-Tulis.my.id?

Di platform ini, mahasiswa dapat menyalurkan kreativitas dan pemikiran mereka melalui berbagai jenis tulisan, seperti:

📰 Berita – Menyajikan informasi aktual dan faktual mengenai peristiwa terkini, baik di lingkungan kampus maupun di luar.

Esai – Gagasan kritis tentang berbagai isu yang dikemas dalam tulisan reflektif dan argumentatif.

📚 Artikel Populer – Tulisan ringan dan informatif yang dikemas dengan bahasa yang mudah dipahami oleh semua kalangan.

🔍 Feature – Liputan mendalam dengan gaya penulisan yang menarik dan mendetail.

📖 Cerpen – Karya fiksi pendek yang menghadirkan cerita menarik dan menggugah emosi.

📝 Puisi – Ungkapan perasaan dan pemikiran dalam bentuk larik-larik puitis yang indah.

🎭 Drama – Naskah cerita yang dikemas dalam bentuk dialog dan adegan, cocok untuk pementasan atau sekadar dinikmati sebagai karya sastra.

Mengapa Tulis-Tulis.my.id?

Wadah ekspresi – Tempat bagi mahasiswa untuk menampilkan karya terbaik mereka. ✅ Pengembangan keterampilan – Menulis secara rutin membantu mahasiswa meningkatkan kualitas tulisan mereka. ✅ Peluang eksposur – Karya yang dipublikasikan dapat menjangkau lebih banyak pembaca, baik dari kalangan akademik maupun masyarakat umum. ✅ Mendukung literasi digital – Mengasah kemampuan menulis di media online yang kini semakin penting.

Bergabung dan Berkarya!

Melalui Tulis-Tulis.my.id, mahasiswa PBSI UNIKU dapat lebih aktif menulis dan berbagi ide dengan dunia. Jadi, tunggu apa lagi? Mari berkarya, menginspirasi, dan jadilah bagian dari gerakan literasi digital bersama kami! 🚀✨







Aku Ingin Masyarakat Indonesia Serius Mengikis Pembajakan Buku

  Pendahuluan   Obral buku bajakan akan tetap laris terutama ketika harga buku asli dirasa begitu mencekik. Situasi ini kerap dialami ol...