Tulis-Tulis

Hasil Karya Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan.

Tulis-Tulis

Hasil Karya Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan.

Tulis-Tulis

Hasil Karya Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan.

Tulis-Tulis

Hasil Karya Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan.

Tulis-Tulis

Hasil Karya Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan.

Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Juni 2025

Kehidupan Mengalir di Pasar Baru Kuningan Jawa Barat

Kuningan, 10 Juni 2025 – Pasar Kepuh yang terletak di Kabupaten Kuningan kembali menunjukkan geliat aktivitas warganya. Sejak pagi hari, suasana pasar dipenuhi oleh interaksi antara pedagang dan pembeli yang berlangsung dalam suasana hangat dan dinamis.

Sebagai salah satu pasar tradisional yang masih bertahan di tengah arus modernisasi, Pasar Kepuh memainkan peran penting dalam roda perekonomian masyarakat lokal. Pasar ini menjadi sentra utama distribusi hasil pertanian dan perdagangan sayur-mayur, yang sebagian besar didatangkan langsung dari kebun petani setempat maupun dari pasar induk.

Aktivitas di pasar sudah dimulai bahkan sebelum matahari terbit. Para pedagang datang lebih awal untuk menata dagangan mereka di atas meja-meja kayu sederhana. Berbagai jenis sayuran segar seperti bayam, kangkung, tomat, cabai, hingga daun bawang, tersusun rapi dan menarik perhatian pembeli sejak pagi.

Selain sebagai tempat transaksi jual beli, pasar ini juga menyimpan beragam kisah perjuangan para pedagang kecil. Beberapa di antaranya menggantungkan harapan besar dari hasil berdagang, seperti menyekolahkan anak hingga menabung untuk kehidupan yang lebih layak.

Suasana khas pasar tradisional pun tampak hidup dengan riuhnya proses tawar-menawar antara pedagang dan pembeli. Meski dilakukan dengan santai dan diselingi canda, proses ini mencerminkan nilai-nilai kejujuran dan kedekatan sosial yang masih terjaga erat. “Di pasar ini, semua terasa seperti keluarga. Tak ada sekat antara penjual dan pembeli,” ungkap salah satu pengunjung.

Namun, dinamika ekonomi yang terjadi juga membawa tantangan tersendiri. Beberapa pedagang mengeluhkan penurunan jumlah pembeli saat harga-harga mulai naik.

“Kalau harga sayur lagi naik, pembeli jadi berkurang. Kadang yang biasanya beli dua ikat, jadi cuma satu. Bahkan ada yang batal beli karena mahal,” ujar Ibu Beta. 

Keberadaan pasar tradisional seperti Pasar Kepuh bukan hanya sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari warga, tetapi juga menjadi ruang sosial yang mempererat hubungan antarindividu dan menjaga budaya lokal.

Di tengah derasnya arus digitalisasi dan pola konsumsi yang semakin instan, Pasar Kepuh masih mampu mempertahankan fungsinya sebagai pusat ekonomi kerakyatan. Aktivitas yang terjadi pada 10 Juni 2025 ini menjadi cermin nyata bahwa tradisi pasar rakyat masih relevan dan dibutuhkan oleh masyarakat.

Pasar, dengan segala kesederhanaannya, bukan hanya soal harga yang murah. Ia adalah tentang kehangatan, keberlangsungan, dan kisah-kisah kecil yang membentuk wajah besar Indonesia dari akar rumput.


Kelas PBSIC-02-2023 (Siang)

Anggota Kelompok:

1. Dena Widia (20230110051)

2. ⁠Melvindi Mutiara Dewi (20230110037)

3. ⁠M Fikri Al Giffari  (20230110047)

3. ⁠Restu Amelia (20230110027)

4. ⁠Virgio Ardanitya P (20230110034)

Kamis, 26 Juni 2025

CERITA SATPAM : Dianggap Musuh Oleh Mahasiswa?


“Kalau dianggap musuh, ya itu karena mereka melanggar aturan. Padahal kami ini menjaga harta-harta anda semua.” Satpam Universitas Kuningan
Wajah-wajah yang kerap terlihat di pintu gerbang, parkiran, atau di bawah panas matahari sering kali tak benar-benar diperhatikan. Mereka yang berseragam dan berdiri tegak dengan wajah serius. Tapi siapa sangka, di balik tubuh tegap dan suara tegas mereka, tersimpan cerita tentang dedikasi, pengorbanan, bahkan hal-hal tak terduga yang mengundang tawa. Di Universitas Kuningan, tiga satpam dengan kisah dan kepribadian berbeda, bersatu dalam satu panggilan: menjaga keamanan kampus dan kenyamanan semua warganya, terutama mahasiswa.

Tedi Kusdianto telah menjaga kampus sejak tahun 2000, artinya lebih dari 24 tahun ia menyaksikan pergerakan mahasiswa, perubahan sistem, hingga wajah-wajah baru di lingkungan kampus. Pria paruh baya ini tidak menyebut profesinya sebagai pilihan awal. “Ini karena kebutuhan hidup, bukan karena pilihan karier,” ujarnya jujur. Namun, dalam perjalanan waktu, ia membuktikan bahwa keterpaksaan bisa tumbuh menjadi ketulusan.

Ia menceritakan salah satu pengalaman yang tak bisa ia lupakan di mana patroli malam yang berubah menjadi pengalaman spiritual. “Ada aura negatif yang menarik kaki saya, melangkah pun terasa berat. Saya lawan dengan membaca ayat kursi,” tuturnya. Di waktu yang berbeda, ia juga kerap menjadi penengah ketika ada konflik kecil antar mahasiswa atau saat kehilangan barang. Ia percaya, satpam bukan hanya soal menjaga gerbang, tetapi menjaga rasa aman, bahkan ketika rasa aman itu tak selalu tampak.

Berbeda dari Tedi Kusdianto yang lebih senior, Ardi Mardiansyah telah menjadi satpam di UNIKU selama 10 tahun lebih, namun pendekatannya sangat aktif dan berorientasi solusi. Tugas utamanya berfokus pada parkiran, area yang menjadi pusat dinamika antara peraturan dan kebiasaan mahasiswa yang "ngeyel".
“ketika kita dari Satpam sudah mengarahkan ada ya kejadian lucunya gitu bilang mau pulang tapi balik lagi karena dari sininya ada yang jaga lagi dari sebelah fakultas yang mungkin mahasiswa itunya yang mau masuk ke area kelasnya jadi disuruh balik lagi ternyata dia kan bohong ” katanya sambil geleng-geleng kepala. Menurut Ardi, tantangan terbesar bukan hanya soal pelanggaran, tapi bagaimana menyampaikannya dengan cara yang bisa diterima mahasiswa. Ia percaya kunci hubungan baik adalah sopan tapi tegas. “Kalau kita ngomongnya enak, mahasiswa juga enggak akan melawan,” ujarnya.
Namun Ardi juga menyadari bahwa satu kesalahan dari satu satpam bisa merusak nama baik semuanya. “Ada yang disangka galak, lalu semua satpam dianggap sama. Padahal karakter kami beda-beda,” katanya dengan nada tenang.

Beni Hidayat menyebut dirinya sudah dua dekade menjadi satpam di Universitas Kuningan. Ia menyimpan cerita paling lucu sekaligus menyentuh: pernah disangka bujangan oleh mahasiswa. Bahkan sempat diajak main ke rumah mahasiswa karena dikira masih single.
“Padahal saya sudah punya istri!” katanya tertawa lepas.

Namun kisah yang paling sering ia alami adalah mahasiswa yang mengira motornya hilang padahal lupa naruh. “Panik, lapor ke saya. Setelah saya suruh ingat-ingat, ternyata motornya diparkir di tempat lain. Itu sering banget,” ujarnya. Meski begitu, Beni tak merasa risih. Ia justru menanggapi semua itu dengan ramah, meski tetap berhati-hati. “Yang penting kita tetap tenang. Jangan panik, karena kalau kita panik, mahasiswa tambah bingung.” Bagi Beni, menjadi satpam bukan soal kuasa, tapi soal mengerti bahwa orang datang ke kampus dengan latar belakang berbeda, dan kadang dengan ego yang berbeda juga.
Ketiganya sepakat bahwa menjadi satpam di kampus bukan pekerjaan yang mudah. Mereka kerap menjadi pihak yang disalahkan saat terjadi sesuatu, seperti kehilangan kendaraan atau pelanggaran parkir.

“Padahal kita cuma menjalankan aturan dari lembaga. Tapi kalau ada apa-apa, yang disalahkan duluan ya satpam,” kata Tedi Kusdianto. Ketika ada kegiatan besar, seperti seminar atau acara kampus, tantangan bertambah. “Banyak orang luar masuk, kadang tak mau lapor. Kalau terjadi pencurian atau kehilangan, nama baik kampus juga kena. Jadi kita harus ekstra waspada,” jelas Ardi.
Bahkan ketika mereka ingin menegakkan aturan, mereka tetap dihadapkan pada mahasiswa yang merasa lebih tahu. “Kadang mahasiswa ngerasa benar terus. Enggak semua sih, tapi yang suka ngelanggar itu biasanya enggak terima kalau ditegur,” tambah Beni.

Meski penuh tantangan, mereka tetap setia di pos masing-masing. Karena mereka percaya, tugas yang mereka emban bukan sekadar menjaga pagar atau memarkir kendaraan, tapi menjaga nilai-nilai ketertiban, kedisiplinan, dan keamanan.
“Harusnya kami bukan dianggap musuh. Tapi sahabat mahasiswa,” kata Tedi Kusdianto mantap. “Karena kami menjaga harta kalian juga. Motor kalian, keamanan kalian, itu tanggung jawab kami.” Tambah Beni Hidayat 
Pesan mereka sederhana, namun dalam:
“Saling hargai saja. Kami satpam di sini untuk bantu, bukan untuk mempersulit. Kalau semua mengikuti aturan, kita bisa sama-sama menjaga kampus ini jadi tempat belajar yang aman, nyaman, dan bersahabat.”

Tiga satpam. Tiga cerita. Dari yang lucu hingga mistis, dari yang emosional hingga profesional. Mereka ada di balik layar rutinitas mahasiswa. Bekerja dalam diam, kadang jadi sasaran, tapi tetap berdiri di pos dengan rasa tanggung jawab yang tidak kecil. Mungkin, sudah waktunya mahasiswa menoleh sejenak bukan untuk ditegur, tapi untuk tersenyum dan menyapa balik mereka yang selalu ada di gerbang kampus setiap pagi.

Oleh: Meta Pitriani, Moh. Syahrul Gunawan, Nurhana Alda Fadilah
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Kuningan

Pejuang Nafkah: Hangatnya Cilok, Hangatnya Perjuangan Hidup

 


Gerobaknya kecil, rodanya berderit pelan, dan di atasnya hanya ada panci berisi cilok, botol saus kacang, dan tusuk-tusuk bambu. Namun, dari balik gerobak itu, tersembunyi kisah keteguhan dan kasih yang tak henti dibagikan. Ia adalah Pak Samsudin, penjual cilok yang lebih dikenal dengan panggilan Mang Udin, sosok yang tak asing lagi di lingkungan kampus tempat ia berjualan.

Pak Samsudin bukanlah tokoh besar. Ia bukan pemilik usaha kuliner viral, bukan juga pedagang dengan omzet jutaan rupiah per hari. Namun selama lebih dari satu dekade, ia telah menjadi bagian dari keseharian banyak mahasiswa. Tak terhitung berapa banyak anak muda yang mengenalnya, yang menyapanya di sela jam kuliah, dan yang mengaitkan aroma cilok hangat dengan kenangan masa kampus mereka.

Lahir pada tahun 1960, Pak Samsudin kini telah memasuki usia 65 tahun. Di usia yang tak lagi muda, ia tetap berjualan setiap hari. Ia tinggal bersama istrinya di daerah Windusengkahan, sebuah kawasan sederhana yang menjadi saksi rutinitas mereka sejak pagi. Meski hidup berdua tanpa anak, mereka menjalani hari-hari dengan saling melengkapi. Tak ada keluhan, tak ada penyesalan, hanya ucapan syukur yang terus terulang. Kami saling mengayomi.

Keseharian mereka dimulai sejak pukul enam pagi. Istrinya bangun lebih awal untuk menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan. Dari berbelanja bahan, mengolah adonan cilok, merebus, meracik sambal kacang, hingga menatanya rapi dalam wadah dagangan semuanya dilakukan oleh sang istri. Sementara itu, Pak Samsudin bersiap mendorong gerobaknya. Biasanya, ia selesai berjualan sekitar pukul satu atau dua siang. Jika dagangan hari itu tidak habis, maka akan ia jual kembali keesokan harinya. Semua dijalani dengan sabar, tanpa merasa harus mengeluh.

Namun sebelum menjual cilok, Pak Samsudin lebih dulu menekuni usaha kacang rebus, yang telah ia jalani sejak tahun 1984. Selama puluhan tahun ia menyusuri jalanan sebagai pedagang kaki lima. Ia tahu rasanya panasnya aspal, dinginnya pagi, dan kerasnya bertahan hidup tanpa jaminan pendapatan. Meski begitu, ia tetap konsisten dan tidak berpaling dari jalan hidupnya.

Baru pada tahun 2011, ia mulai menjual cilok. Saat itu, permintaan jajanan ini mulai meningkat, dan ia pun melihat peluang baru. Sejak saat itu, selama lebih dari 14 tahun, ia terus menjajakan cilok keliling di kawasan kampus yang kini menjadi bagian dari hidupnya.

Pak Samsudin bukan hanya hadir secara fisik di kampus, tapi juga dalam ingatan banyak mahasiswa. Ia menyaksikan generasi demi generasi berganti, dari mahasiswa baru yang pertama kali membeli cilok, hingga mereka yang akhirnya lulus dan bekerja. “Masih ada yang nyapa. Masih kangen,” katanya saat ditanya apakah mahasiswa lama masih mengingatnya.

Ia mengenal mereka bukan hanya sebagai pembeli, tapi sebagai teman dan beberapa di antaranya hanya disebut berdasarkan nama jurusan atau mengingat wajahnya saja. Ia juga mengenal dosen-dosen dan staf kampus yang pernah menjadi pelanggannya. Hubungannya dengan mereka bersifat manusiawi, saling menghormati, dan penuh keakraban. Bagi Pak Samsudin, mereka semua adalah bagian dari kehidupannya sehari-hari.

Namun, perjalanan itu tidak selalu mulus. Ketika pandemi COVID-19 melanda, ia sempat dilarang masuk kampus. Itu adalah masa sulit. Tidak ada tempat berjualan, tidak ada mahasiswa yang lewat, dan tentu saja tidak ada pendapatan. Meski demikian, ia tidak pernah kehilangan semangat. Ia tetap mencoba berdagang di luar area kampus dan bertahan sebisanya. Setelah pembatasan dilonggarkan, ia kembali hadir di kampus. Mahasiswa-mahasiswa lama yang dulu sering membeli darinya, kini menyapanya kembali. Itu menjadi momen yang sangat berarti baginya.

Penghasilan yang ia dapat dari menjual cilok tidaklah besar. Dalam sehari, ia bisa membawa pulang sekitar Rp200.000 hingga Rp250.000, tergantung seberapa banyak yang terjual. Jumlah itu digunakan untuk makan dan memenuhi kebutuhan rumah tangga. Tidak ada tabungan berlebih, tidak ada bisnis sampingan. Namun, sekali lagi, ia tak pernah mengeluh.

“Dulu sehari bisa habis. Sekarang dua hari baru habis,” katanya, menggambarkan perubahan daya beli atau mungkin selera pasar yang berubah. Tapi baginya, asalkan masih bisa berjualan, itu sudah cukup. Ia tidak mengejar kekayaan, hanya ingin tetap sehat dan bisa menjalani hidup bersama istrinya.

Yang membuat kisah Pak Samsudin begitu menyentuh adalah ketulusannya. Ia tidak pernah merasa bahwa pekerjaannya itu diposisi yang rendah. Justru sebaliknya, ia bangga bisa bertahan, bisa dikenal, dan bisa memberi kenangan kecil untuk orang lain. Tidak banyak orang yang bisa menjalani hidup dengan cara seperti itu jujur, konsisten, dan tanpa menuntut balasan apa pun.

Menjelang akhir wawancara, Pak Samsudin memberikan pesan untuk para mahasiswa yang menjadi pelanggannya selama ini. Suaranya terdengar ringan tapi sarat makna. “Saya doakan semua mahasiswa saya sukses, sehat selalu, dan cepat dapat kerja,” katanya. Ia tahu mereka datang dan pergi, tapi ia selalu menyisakan tempat dalam doanya untuk mereka.

Di balik setiap tusuk cilok yang ia jual, ternyata terselip doa dan harapan. Ia mungkin tidak punya gelar, tidak punya jabatan, tapi punya hati yang mendoakan setiap mahasiswa yang lewat di hadapannya.

Bagi Pak Samsudin, dagangannya bukan hanya soal makanan. Itu adalah bentuk pengabdian. Ia hadir setiap hari, menyapa dengan senyum, dan diam-diam menjadi bagian dari perjalanan hidup orang lain.

 Pak Samsudin atau Mang Udin adalah satu dari sedikit orang yang hadir tanpa pamrih, tapi memberikan dampak besar. Ia adalah penjaga memori kampus, penyelip doa di antara cilok, dan pengingat bahwa kehidupan tidak harus besar untuk menjadi berarti.

 

Oleh : Kelompok 6 PBSIC-23-01
Anggia Zalfa Afifah 20230110048
Dini Damayanti 20230110032
Khalid Naufal Adani 20230110029
Neneng Nurul Aini 20230110045

Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Kuningan 


Langkah Badut, Langkah Hidup - Kisah Inspiratif di Balik Senyum yang Tak Pernah Pudar




Kuningan, 3 Juni 2025 — Di tengah riuhnya jalanan, sosok berwarna kuning cerah dengan senyuman khas badut Pikachu sering kali menyita perhatian anak-anak. Namun, di balik kostum lucu dan senyuman Pikachu itu, tersembunyi kisah perjuangan seorang pria bernama Rudi, atau yang sering dipanggil sebagai Om Badut.

Rudi, pria 31 tahun asal Sindang Agung, Kabupaten Kuningan, memulai profesinya sebagai badut sejak tahun 2020. Awalnya, pilihan ini bukanlah cita-cita, melainkan jalan cepat terhadap situasi mendesak saat pandemi COVID-19 yang membuat lapangan kerja semakin sempit. “Waktu itu cari kerja susah banget.” ungkapnya, “Jadi, saya kepikiran buat ngebadut aja, yang penting halal.”

Setiap harinya, Rudi memulai aktivitas dari jam 10 pagi hingga malam, kadang sampai pukul 9 malam tergantung cuaca. Lokasi yang selalu ia tempati adalah sekitaran SPBU, terutama SPBU Sindang Agung dan Taman Kota Kuningan, pada saat malam minggu yang cukup ramai pengunjung. Tak jarang ia juga tampil pada saat Car Free Day dan acara tertentu seperti ulang tahun anak-anak. Ia memiliki penghasilan yang tak menentu, berkisar Rp50.000 hingga Rp70.000 per hari. Namun, jika dalam acara ulang tahun bisa mencapai Rp300.000.

Meski mengenakan kostum badut tampak menyenangkan dari luar, kenyataannya tak semudah itu. Kostum yang tebal membuat tubuh cepat panas dan gerah. ”Kalau nggak biasa, sepuluh menit aja udah mau pingsan” katanya sambil tertawa. Tantangan lain yang ia alami adalah stigma sosial, beberapa orang menganggap profesi badut sebagai sesuatu yang rendah, bahkan ia pernah mengalami kejadian yang tak mengenakkan, seperti dianggap mengganggu ketertiban hingga akhirnya diusir.

Namun di balik semua itu, ada kebahagiaan sederhana yang menjadi penunjang semangat Rudi, adalah tawa anak-anak. “Kadang anak kecil suka dorong-dorong badut, kita sampai jatuh dan guling-guling… tapi itu lucu banget, malah bikin senang,” ujarnya. Dekat dengan anak-anak, membuatnya merasa menjadi bagian dari kebahagiaan mereka.

Di sisi lain, Rudi menyadari bahwa pekerjaan ini bukan sesuatu yang bisa ia jalani selamanya. Ia menyimpan harapan untuk memiliki usaha yang lebih mapan di masa depan. ”Saya nggak pengen selamanya ngebadut. Mudah-mudahan ke depannya bisa punya usaha yang lebih layak.”  ujarnya.

Meski hidupnya jauh dari kata mudah, Rudi tetap memegang teguh nilai kejujuran dan kerja keras. Ia ingin menjadi contoh bagi generasi muda. ”Pesan saya, tetap semangat dan jangan malas. Sekolah yang rajin, kejar cita-cita. Jangan sampai nyesel kayak kita-kita ini dulu.” ujarnya dengan senyum.

Kisah Rudi adalah potret nyata tentang daya juang, keteguhan hati, dan semangat bertahan di tengah kesulitan. Lewat kostum badut Pikachu, ia bukan hanya menghibur, tapi juga mengajarkan bahwa setiap kerja keras, sekecil apapun layak dihargai.


Oleh: Dzikri Dwiky Abdilah, Ilham Alparizi, Intan Chaerul Bariyyah, Lena Sulistia Agustrianti.

Kisah Warung Pak Yadi: Bukan Sekedar Tempat Makan, Tapi Keluarga Kedua Bagi Mahasiswa

Di balik asap wangi ayam bakar yang setiap hari mengepul di depan Kampus 2 Universitas Kuningan, tersembunyi kisah sederhana namun menyentuh, milik seorang ibu bernama Bu Yadi. Bersama sang suami, Pak Yadi, ia mengelola sebuah warung makan kecil yang sudah lebih dari sepuluh tahun menjadi bagian dari kehidupan mahasiswa. Tidak hanya sebagai tempat makan, tetapi juga sebagai ruang nyaman tempat berbagi cerita, keluh kesah, bahkan tawa.

Warung Makan Pak Yadi berdiri sejak tahun 2013. Namun, seperti banyak kisah usaha kecil lainnya, awal mula warung ini bukanlah hasil dari perencanaan bisnis matang, melainkan lahir dari dorongan kebutuhan hidup. Saat itu, Pak Yadi bekerja sebagai security di Kampus 1 Universitas Kuningan, sementara Bu Yadi hanya tinggal di rumah. Melihat peluang dan ingin membantu ekonomi keluarga, Bu Yadi memberanikan diri mulai berjualan ayam. Situasi ini sejalan dengan penelitian dari Kurniawan, Putri, & Ghina (2020), bahwa modal usaha seperti finansial maupun kemampuan ekonomis sering menjadi motivasi utama bagi perempuan berwirausaha karena kebutuhan ekonomi keluarga.

“Daripada nganggur, ya saya coba jualan saja,” tutur Bu Yadi sambil tersenyum. Kala itu, mereka berjualan di area Kampus 1. Namun, beberapa tahun kemudian, warung mereka terpaksa pindah ke Kampus 2 karena konflik keluarga, yaitu lahan tempat mereka berjualan ikut terseret dalam sengketa warisan.

Meski harus pindah lokasi, semangat Bu Yadi dan Pak Yadi tak pernah goyah. Setiap Senin sampai Sabtu, mulai pukul 10 pagi hingga sekitar jam 3 sore, mereka membuka warungnya. Menu andalan mereka adalah satu paket makan yang isinya nasi, ayam bakar atau ayam goreng, kol goreng dan sambal rahasia yang menjadi ciri khas warung makan mereka, dan bisa didapatkan hanya dengan harga Rp10.000/porsi yang tak berubah meski harga bahan pokok terus naik.

“Kami nggak pernah naikin harga. Biar mahasiswa tetap bisa makan enak meski uangnya pas-pasan,” ujarnya.

Di Kampus 2, suasana terasa berbeda. Jika dulu di Kampus 1 pelanggan mereka mayoritas perempuan dan suka berlama-lama ngobrol, kini di Kampus 2 yang lebih banyak mahasiswa laki-laki, semua terasa cepat karena mereka hanya datang, makan, lalu pergi. “Di sini nggak ada yang ngerumpi, kebanyakan cowo” kata Bu Yadi terkekeh.

Namun meski waktunya singkat, relasi mereka dengan pelanggan tak pernah hilang. Ada saja mahasiswa yang curhat tentang kuliah, keluarga, bahkan soal cinta. Tak jarang pula, momen lucu menghiasi hari-hari mereka. Salah satunya adalah ketika seorang mahasiswa yang selama empat tahun menjadi pelanggan setia, tiba-tiba kembali hanya untuk bertanya, “Bu, nama Ibu sebenarnya siapa?” ujar Bu Yadi. Selain sebagai tempat makan, tempat ini juga menjadi ruang interaksi sosial penting bagi mahasiswa. Seperti dalam penelitian studi kasus Ishomuddin, Idris, dan Adi (2024), bahwa interaksi mahasiswa di kafe atau warung menciptakan pola kerja sama untuk tujuan bersama seperti diskusi tugas, berbagi informasi, maupun saling memberi dukungan emosional 

Dulu, saat masih di Kampus 1, mereka bisa menghabiskan hingga 50 kg ayam dalam sehari. Kini, di lokasi baru, penjualan berkisar antara 20 sampai 30 kg. Meski begitu, hasil jualan tetap cukup untuk menghidupi keluarga. Yang paling penting bagi Bu Yadi bukanlah besar kecilnya pemasukan, melainkan rasa berkah yang ia rasakan dari pekerjaan ini.

“Yang penting usaha ini berkah” ucapnya dengan penuh keyakinan.

Ketika ditanya soal rencana ke depan, Bu Yadi mengaku masih berharap bisa kembali berjualan di Kampus 1 jika ada lahan yang memungkinkan. Namun, ia tidak muluk-muluk. Baginya, selama bisa terus memasak dan melayani mahasiswa, itu sudah cukup.

“Semangat kuliahnya, fokus, lulus, terus jadi sarjana” pesannya untuk semua mahasiswa yang pernah dan masih mampir di warungnya. Warung Makan Pak Yadi memang sederhana. Namun dari tempat itu, tak hanya perut yang kenyang. Hati pun hangat dan tenang. Ia menjadi saksi diam dari perjuangan para mahasiswa, sekaligus cermin ketulusan dan kerja keras seorang ibu yang tak kenal lelah.


Referensi

Ishomuddin, F. N., Idris, I., & Adi, K. R. (2024). INTERAKSI SOSIAL MAHASISWA DI WARUNG KOPI (STUDI KASUS DI WARUNG KOPI ALAMMALAM). Jurnal Integrasi Dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial, 4(10), 3. https://doi.org/10.17977/um063v4i10p3.

Kurniawan, A., Putri, M. K., & Ginanjar, A. (2020). Identifikasi Motivasi Dan Hambatan Pada Wanita Pengusaha (studi Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia Kota Depok). Proceedings of Management, 7(1). 


Ditulis oleh: Alisa, Muhammad Rifqi Hidayat, Nayla Lailatul Mardiyah, Rossy Dwi Indriani


Selasa, 24 Juni 2025

Kuliner Kaki Lima, Rasa yang Menghidupkan Harapan



Di sela-sela deru kendaraan dan riuh kota yang tak pernah benar-benar tidur, sepasang tangan sibuk menata dagangan di atas trotoar sempit. Tak ada atap permanen, hanya payung lusuh penangkal terik dan hujan. Namun dari tempat itulah, pedagang kaki lima menggantungkan harapan. Bukan sekadar mencari nafkah, tapi merajut mimpi tentang pendidikan anak, rumah yang lebih layak, hingga kehidupan yang lebih tenang. Langkah mereka mungkin kecil, tapi semangatnya menghidupi denyut kota ini.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) provinsi Jawa Barat Pada tahun 2023, tercatat 16.485 unit usaha mikro dan kecil di Kabupaten Kuningan, mayoritas berupa pedagang kaki lima. Di balik angka tersebut, tersimpan perjuangan berat menghadapi keterbatasan modal, cuaca tak menentu, dan persaingan yang ketat. Meski menjadi tulang punggung ekonomi lokal, kehidupan mereka tetap rapuh dan sangat membutuhkan dukungan untuk bertahan dan berkembang.

Salah satu pedagang yang ditemui di lokasi mengungkapkan bahwa dirinya mulai berjualan di tempat tersebut sejak tahun 2021. Sebelumnya, ia sempat berjualan di sisi barat area itu, namun kemudian memutuskan untuk pindah ke lokasi sekarang demi mendapatkan tempat yang lebih strategis dan ramai pengunjung. “Awalnya saya bukan berjualan di sini, tapi di barat. Lalu pindah ke sini tahun 2021,” ujarnya. Ia mengaku cukup nyaman berjualan di lokasi saat ini meskipun tetap ada tantangan yang harus dihadapi.

Tantangan yang dimaksud terutama berkaitan dengan kondisi cuaca. Salah satu pedagang lainnya mengatakan bahwa meskipun secara umum tidak ada kesulitan besar dalam berdagang, namun ketika cuaca tidak mendukung seperti hujan deras yang turun dari siang hingga malam, aktivitas jual beli menjadi sangat sepi. “Kalau hujan dari siang sampai malam, ya begini lah resikonya orang dagang. Pembeli jadi malas keluar rumah,” tuturnya sambil merapikan barang dagangannya. Kondisi ini membuat para pedagang harus bersabar dan tetap berusaha semaksimal mungkin untuk menarik minat pelanggan di tengah cuaca yang tidak bersahabat.

Selain persoalan cuaca, ketersediaan tempat untuk berjualan juga menjadi perhatian penting bagi para pedagang. Seorang pedagang yang sudah berjualan selama lima tahun berharap agar pemerintah dapat memperhatikan kebutuhan para pelaku usaha kecil dengan menyediakan lahan atau tempat yang lebih luas dan layak. “Kalau bisa sih memperbanyak lahannya, supaya semua pedagang punya tempat berjualan yang layak,” katanya. Ia menilai bahwa ketersediaan tempat usaha yang memadai merupakan salah satu bentuk dukungan nyata dari pemerintah terhadap pengembangan ekonomi rakyat kecil.

Tak hanya itu, bagi sebagian pedagang, usaha yang mereka jalankan ini bukan sekadar mencari nafkah harian, melainkan juga sebagai harapan untuk masa depan keluarga. Salah seorang pedagang dengan penuh semangat menyampaikan harapannya agar usahanya bisa berkembang dan membuka cabang baru di masa depan. “Semoga saya bisa menambah cabang untuk menghidupi keluarga,” ujarnya sambil tersenyum. Harapan tersebut mencerminkan semangat dan tekad para pelaku usaha kecil dalam membangun kehidupan yang lebih baik, meski di tengah keterbatasan dan tantangan yang mereka hadapi setiap hari.

Di balik asap gorengan dan tumpukan piring plastik, tersimpan harapan yang tak pernah padam.
Bagi mereka, dagangan ini bukan sekadar soal makan, tapi tentang martabat, mimpi, dan masa depan.

Maka, saat kita menikmati makanan kaki lima, mari kita lihat lebih dalam. Ada tangan-tangan gigih yang bekerja, dan ada harapan yang terus menyala.

Rabu, 11 Juni 2025

Manfaat berjalan kaki dan Grounding untuk kesehatan mental

 


Berjalan  kaki merupakan aktivitas yang sering dilakukan oleh sebagian orang. Walaupun mudah dilakukan, berjalan kaki sangatlah berdampak besar bagi kesehatan fisik maupun mental. Dilansir dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, berjalan kaki dapat melancarkan peredaran darah, mengurangi resiko penyakit jantung, menjaga berat badan tetap stabil, dan menjaga kebugaran tubuh. Juga masih banyak lagi manfaat fisik yang didapat dari berjalan kaki.

     Tidak hanya memberikan dampak positif fisik. Berjalan kaki juga berdampak pada kesehatan mental. Dilansir dari blog radio Tulungagung Berjalan kaki sangat baik untuk kesehatan mental. Aktivitas ringan seperti berjalan kaki dapat merangsang produksi endorphin, hormon yang membantu mengurangi stress dan kecemasan. Menurut sebuah studi menemukan berjalan kaki secara rutin dapat mengurangi gejala depresi dan meningkatkan mood seseorang.

Manfaat kesehatan mental lainnya yang bisa didapat dari berjalan kaki yakni :

1. Mengurangi stres

     Dilansir dari Madiun Today berjalan kaki bisa meningkatkan aliran darah dan oksigen ke otak, yang dapat menenangkan pikiran dan meningkatkan suasana hati. Aktivitas fisik ini dapat merangsang produksi hormon endorfin, yang membantu meningkatkan mood dan mengurangi stres serta depresi.

2. Meningkatkan suasana hati

     Berjalan kaki membantu menurunkan hormon stres, seperti kortisol, yang dapat menyebabkan kecemasan dan ketegangan.  berjalan kaki juga meningkatkan sirkulasi darah ke otak, yang dapat meningkatkan fungsi kognitif dan mood.

3. meningkatkan kualitas tidur

     Berjalan kaki dapat membantu mengatur ritme sirkadian tubuh, yang berperan dalam meningkatkan kualitas tidur. Orang yang rutin berjalan kaki lebih cenderung tidur lebih nyenyak dan bangun lebih segar.

4. menjaga kesehatan kognitif

     Dilansir dari Halodoc berjalan kaki memiliki dampak baik bagi fungsi eksekutif dan kecepatan pemrosesan otak. Hal tersebut dikatakan oleh penulis studi Joyce Gomes-Osman, PhD., dari University of Miami Miller School of Medicine. Fungsi eksekutif yang dimaksud di sini adalah kemampuan untuk merencanakan, mengatur, dan menyelesaikan tugas. Hasil studi tentang manfaat berjalan kaki untuk kesehatan otak ini didasarkan pada peninjauan terhadap hampir 100 uji klinis yang dilakukan pada 11.000 peserta dengan usia rata-rata 73 tahun. Uji coba ini berfungsi untuk menguji manfaat kognitif dari berbagai latihan fisik, termasuk berjalan kaki, bersepeda, menari, tai chi, dan yoga. Kegiatan fisik ini dilakukan selama rentang waktu empat minggu hingga satu tahun.


Praktik Grounding

     Dikutip dari Alodokter Grounding atau earthing adalah teknik terapi yang melibatkan aktivitas tertentu di ruang terbuka sehingga membuat seseorang kembali terhubung pada bumi. Grounding punya banyak manfaat untuk kesehatan, sehingga terapi ini makin dilirik banyak orang.  

     Grounding punya banyak manfaat untuk kesehatan karena terapi ini dipercaya bisa mengalirkan energi positif dari bumi, yang berdampak baik terhadap kesehatan fisik maupun mental.

     Grounding juga mudah untuk dilakukan. Anda hanya perlu melakukan kontak langsung dengan permukaan bumi, seperti berjalan tanpa menggunakan alas kaki di sekitar rumah, duduk santai di kursi dengan kaki telanjang, atau berbaring di atas rumput.

 

Manfaat Grounding

1. Mengurangi rasa lelah

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa melakukan aktivitas grounding bisa mengurangi kelelahan. Dalam penelitian ini ditemukan fakta bahwa orang yang melakukan grounding cenderung menjadi tidak mudah lelah atau sakit dan memiliki suasana hati yang lebih baik.

Berdasarkan hal tersebut, para peneliti meyakini bahwa grounding dapat membantu meningkatkan kualitas hidup seseorang.

2. Mengurangi peradangan

Grounding yang dilakukan secara rutin dapat membantu mengurangi peradangan, yang dikaitkan dengan berbagai penyakit dan rasa sakit. Manfaat grounding ini mungkin diperoleh karena grounding bisa membantu mengelola kadar kortisol dalam darah.

Kortisol merupakan hormon yang muncul saat tubuh mengalami stres. Hormon ini memiliki fungsi mengatur metabolisme tubuh, tekanan darah, gula darah, dan respon tubuh terhadap stres.

3. Menurunkan tekanan darah

Meski perlu untuk diteliti lebih lanjut, sebuah penelitian menunjukkan bahwa grounding yang dilakukan secara rutin dapat menurunkan tekanan darah penderita hipertensi.

Dalam penelitian tersebut ditemukan fakta bahwa rata-rata tekanan darah sistolik penderita hipertensi mengalami penurunan sekitar 14,3% setelah melakukan grounding secara rutin.

4. Meningkatkan imunitas tubuh

Beberapa peneliti percaya bahwa grounding dapat meningkatkan imunitas tubuh. Cara kerja grounding dalam meningkatkan imunitas tubuh diyakini sama dengan antioksidan, yaitu menghubungkan sel yang hidup (manusia) dengan matriks hidup lainnya (tanah, rumput, alam sekitar) melalui konduksi listrik satu dengan yang lainnya. Koneksi yang positif ini kemudian membuat tubuh dapat menangkal radikal bebas yang merusak sel-sel tubuh dan memicu beragam penyakit.

5. Menurunkan risiko terkena penyakit jantung

Karena mampu menurunkan tekanan darah, grounding yang dilakukan secara rutin juga dapat menurunkan risiko terkena penyakit jantung. Selain itu, grounding juga mampu meningkatkan detak jantung yang melemah.

Sebuah penelitian menunjukkan adanya peningkatan detak pada jantung lemah setelah melakukan grounding selama 20 menit. Manfaat grounding bagi kesehatan jantung ini pun akan meningkat jika grounding dilakukan lebih lama. 

6. Mengurangi kecemasan

Manfaat grounding kesehatan mental antara lain adalah menurunkan tingkat kecemasan. Ini karena saat melakukan aktivitas membumi, fokus Anda akan teralihkan. Saat Anda berjalan-jalan di taman tanpa menggunakan alas kaki, menikmati setiap pijakan kaki ke tanah atau rumput bisa mengalihkan rasa cemas yang dirasakan.

Begitu juga halnya dengan menghitung banyaknya langkah kaki yang Anda pijakkan. Fokus Anda dapat menjadi teralihkan, sehingga rasa cemas berkurang.

        Berjalan kaki dan Grounding merupakan aktivitas yang murah dilakukan. Untuk memulai membiasakannya bisa dimulai dari skala kecil terlebih dahulu. Dengan berjalan kaki dan Grounding, kita bisa mendapat beragam manfaat. salah satu manfaatnya merujuk pada kesehatan mental. Aktivitas ini dapat mengurangi stres, meningkatkan suasana hati, memperbaiki kualitas tidur, dan menjaga kesehatan kognitif dengan meningkatkan fungsi eksekutif dan kecepatan pemrosesan otak.


Oleh Ridho Wahyu Nugraha

Banjir Bandung: Mengungkap Penyebab dan Dampak yang Menghantui

 








 

Banjir di Bandung telah menjadi masalah yang berulang dan semakin mengkhawatirkan. Setiap tahun, saat musim hujan tiba, warga Bandung harus bersiap menghadapi potensi banjir yang dapat merusak rumah, infrastruktur, dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Banjir di Bandung merupakan masalah kompleks yang memerlukan perhatian serius dari pemerintah dan masyarakat. Dengan melakukan evaluasi dan perbaikan infrastruktur serta meningkatkan kesadaran masyarakat, diharapkan kejadian banjir dapat diminimalisir di masa mendatang. Melalui kolaborasi dan upaya berkelanjutan, Bandung dapat membangun ketahanan terhadap bencana banjir yang lebih baik.

 

Penyebab Banjir di Bandung

Salah satu penyebab utama banjir di Bandung adalah alih fungsi lahan yang masif. Banyak lahan pertanian yang beralih menjadi pemukiman, area bisnis, dan tempat wisata. Hal ini mengurangi kemampuan tanah untuk menyerap air hujan, sehingga meningkatkan risiko banjir. Menurut Direktur Pusat Sumber Daya Komunitas (PSDK) Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, Ahmad Gunawan, alih fungsi lahan di kawasan seperti Pangalengan dan Baleendah telah mengancam ketersediaan air dan meningkatkan potensi krisis air bersih di masa depan.

Selain itu, pembangunan infrastruktur yang tidak terencana juga berkontribusi terhadap masalah ini. Banyak bangunan yang didirikan di daerah tangkapan air, yang seharusnya berfungsi sebagai resapan air. Dengan semakin banyaknya permukiman yang dibangun di daerah tersebut, kemampuan tanah untuk menyerap air hujan semakin berkurang. Data dari Rencana Tata Ruang Wilayah (RT/RW) Kabupaten Bandung menunjukkan bahwa luas kawasan pemukiman meningkat signifikan, sementara lahan pertanian terus menyusut.

Perubahan iklim juga memainkan peran penting dalam meningkatkan frekuensi dan intensitas hujan. Dengan pola cuaca yang semakin tidak menentu, hujan lebat yang terjadi dalam waktu singkat dapat menyebabkan sungai meluap dan banjir bandang. Hal ini menuntut perhatian serius dari pemerintah dan masyarakat untuk melakukan langkah-langkah mitigasi yang efektif.

 

Dampak Banjir bagi Masyarakat

Dampak dari banjir di Bandung sangat luas dan merugikan. Banyak rumah yang rusak, dan aktivitas sehari-hari masyarakat terganggu. Dalam beberapa kejadian, seperti banjir bandang di Cilengkrang, belasan rumah mengalami kerusakan berat, dan beberapa warga harus mendapatkan perawatan medis akibat dampak banjir. Kerugian ekonomi yang ditimbulkan juga tidak sedikit, dengan banyak usaha kecil yang terpaksa tutup sementara waktu.

Dampak sosial juga tidak kalah penting. Banyak keluarga yang kehilangan tempat tinggal dan barang berharga akibat banjir. Hal ini dapat menyebabkan trauma psikologis bagi anak-anak dan orang dewasa yang terdampak. Dengan meningkatnya jumlah pengungsi, pemerintah harus berupaya menyediakan tempat tinggal sementara dan bantuan yang memadai untuk membantu mereka pulih dari bencana ini.

Masyarakat Bandung memiliki pendapat yang beragam tentang masalah banjir ini. Seorang warga bernama Rani, yang tinggal di kawasan Cileunyi, mengungkapkan, "Setiap kali hujan deras, saya selalu khawatir. Banjir sudah menjadi hal biasa, tetapi dampaknya sangat merugikan kami." Dia menambahkan bahwa pemerintah perlu lebih aktif dalam melakukan perbaikan infrastruktur dan mengatur pembangunan di daerah rawan banjir.

Di sisi lain, seorang pedagang kaki lima bernama Budi mengatakan, "Banjir membuat saya kehilangan pelanggan. Banyak orang tidak mau datang ke area ini ketika banjir melanda." Ia berharap pemerintah dapat membantu para pedagang kecil dengan memberikan akses ke lokasi yang lebih aman dan mendukung usaha mereka saat terjadi bencana.

Selain itu, seorang mahasiswa, Diah, juga memberikan pandangannya. "Saya merasa pendidikan saya terganggu ketika sekolah diliburkan akibat banjir. Penting bagi pemerintah untuk mencarikan solusi agar sekolah tetap bisa berjalan meski cuaca buruk." Dia menekankan perlunya peningkatan kesadaran di kalangan generasi muda tentang pentingnya menjaga lingkungan untuk mencegah bencana di masa depan.

 

Upaya Penanganan dan Solusi

Untuk mengatasi masalah banjir, pemerintah daerah telah melakukan berbagai upaya, termasuk evaluasi terhadap infrastruktur dan pola tanam masyarakat. Bupati Bandung menekankan pentingnya penanaman pohon dan penggunaan teknik pertanian yang lebih baik untuk mengurangi risiko banjir di masa depan. Program penghijauan dan pembuatan sumur resapan menjadi salah satu strategi yang diusulkan untuk mengelola air hujan secara lebih efektif.

Masyarakat juga diharapkan lebih sadar akan pentingnya menjaga kebersihan sungai dan tidak membuang sampah sembarangan. Edukasi tentang pengelolaan limbah yang baik menjadi langkah preventif yang dapat diambil untuk mengurangi risiko banjir. Dengan kesadaran yang tinggi, diharapkan masyarakat dapat berperan aktif dalam pencegahan banjir.

Pemerintah juga perlu meningkatkan kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk organisasi non-pemerintah dan sektor swasta, untuk merancang solusi yang berkelanjutan. Penelitian dan pengembangan teknologi ramah lingkungan bisa menjadi salah satu alternatif dalam menghadapi permasalahan banjir yang terus mengancam. Dengan sinergi yang baik, diharapkan kondisi banjir di Bandung bisa ditangani secara efektif dan berkelanjutan.

Jajan atau Servis Motor? Sebuah Perspektif Sosial dan Praktis


Jajan atau Servis Motor? Sebuah Perspektif Sosial dan Praktis

Oleh: Satria Ramadhan (20230110009)

Di tengah gaya hidup urban yang terus berkembang, banyak perempuan menghadapi dilema sederhana namun menarik: apakah lebih baik menghabiskan waktu untuk servis motor atau menikmati waktu senggang dengan jajan di cafe? Ungkapan seperti "Dih, mendingan jajan deh daripada servis motor!" bukan hanya candaan, tetapi mencerminkan realitas sehari-hari bagi banyak perempuan. Artikel ini akan membahas fenomena tersebut secara lebih komparatif dengan melihat perbedaan sudut pandang antara laki-laki dan perempuan, serta faktor yang memengaruhi preferensi mereka.

Bengkel vs Cafe: Dunia yang Berbeda

Servis motor bagi sebagian besar perempuan sering terasa seperti memasuki dunia lain. Suasana bengkel dengan bau oli, suara mesin yang bising, dan percakapan teknis antara mekanik bukanlah sesuatu yang menarik bagi mereka. Banyak perempuan merasa tidak nyaman karena kurangnya pengetahuan teknis dan adanya kekhawatiran akan ditipu atau mendapatkan pelayanan yang kurang transparan.

Sebaliknya, cafe atau tempat jajan menawarkan pengalaman yang lebih menyenangkan dan mudah diakses. Tidak ada istilah teknis yang membingungkan, tidak perlu merasa terintimidasi, dan yang terpenting, ada kesan sosial yang lebih nyaman. Nongkrong sambil menikmati kopi, es krim, atau makanan ringan memberikan kepuasan emosional dan memperbaiki mood.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pilihan

Mengapa banyak perempuan lebih memilih jajan dibandingkan servis motor? Ada beberapa faktor utama yang memengaruhi keputusan ini:

1. Prioritas Waktu dan Kenyamanan

Perempuan yang sibuk bekerja atau kuliah sering kali memilih untuk mengalokasikan waktu luangnya untuk hal-hal yang menyenangkan daripada menghabiskan waktu di bengkel. Dua jam yang bisa digunakan untuk menunggu servis motor terasa lebih berharga jika digunakan untuk bersantai atau berinteraksi sosial.

2. Kurangnya Pendidikan Mekanik Sejak Dini

Sejak kecil, laki-laki lebih sering diajak untuk memahami mesin dan kendaraan, sementara perempuan cenderung diarahkan ke bidang lain seperti memasak, kecantikan, atau fashion. Akibatnya, saat dewasa, servis motor menjadi sesuatu yang asing dan kurang menarik bagi mereka.

3. Dukungan dari Lingkungan

Banyak perempuan merasa bahwa mereka tidak perlu memahami seluk-beluk perawatan motor karena ada orang lain yang bisa membantu. Baik itu teman laki-laki, anggota keluarga, atau bahkan layanan mekanik yang bisa dipanggil ke rumah. Fenomena ini memperkuat kebiasaan untuk menghindari bengkel dan lebih mengandalkan pihak lain dalam merawat kendaraan mereka.

Perspektif Laki-Laki: Mengapa Mereka Lebih Nyaman dengan Servis Motor?

Di sisi lain, laki-laki cenderung lebih nyaman dengan servis motor karena mereka sudah terbiasa dengan lingkungan bengkel sejak muda. Mereka memahami pentingnya perawatan kendaraan dalam jangka panjang dan lebih percaya diri saat berinteraksi dengan mekanik. Selain itu, bagi sebagian laki-laki, servis motor bukan hanya sekadar kebutuhan tetapi juga bentuk hobi atau aktivitas yang menarik.

Namun, pandangan ini tidak selalu berlaku secara universal ada juga laki-laki yang kurang tertarik pada dunia otomotif dan lebih memilih menghindari bengkel. Dalam kasus seperti ini, preferensi terhadap servis motor atau jajan lebih ditentukan oleh latar belakang individu dibandingkan gender semata.

Apakah Salah Memilih Jajan daripada Servis Motor?

Jawabannya adalah tidak. Ini bukan soal benar atau salah, melainkan soal preferensi dan kenyamanan. Bagaimanapun juga, merawat motor tetap penting karena kendaraan adalah alat transportasi utama bagi banyak orang. Menghindari servis motor sepenuhnya bisa berakibat buruk jika kendaraan mengalami kerusakan di saat yang tidak diinginkan.

Solusi terbaik adalah menemukan keseimbangan antara kenyamanan dan tanggung jawab. Perempuan bisa mencari bengkel yang memberikan pengalaman lebih nyaman dan ramah, sementara laki-laki bisa lebih proaktif dalam membantu memberikan edukasi mengenai perawatan kendaraan kepada teman-teman mereka.

Pada akhirnya, baik jajan maupun servis motor memiliki nilai dan kelebihannya masing-masing. Yang terpenting adalah membuat pilihan yang sesuai dengan kebutuhan dan gaya hidup kita.

"Daripada ke bengkel, mending ke cafe. Motor bisa nunggu, kopi nggak."

Namun jangan lupa, motor juga butuh perawatan agar tetap sehat dan bisa menemani aktivitas sehari-hari!

 

Aku Ingin Masyarakat Indonesia Serius Mengikis Pembajakan Buku

  Pendahuluan   Obral buku bajakan akan tetap laris terutama ketika harga buku asli dirasa begitu mencekik. Situasi ini kerap dialami ol...