Tulis-Tulis
Hasil Karya Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan.
Tulis-Tulis
Hasil Karya Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan.
Tulis-Tulis
Hasil Karya Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan.
Tulis-Tulis
Hasil Karya Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan.
Tulis-Tulis
Hasil Karya Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan.
Minggu, 20 Juli 2025
Apakah penting kerapihan di lingkungan mahasiswa?
Jumat, 11 Juli 2025
AKU INGIN INDONESIA MENJADI NEGARA DENGAN SISTEM TEKNOLOGI YANG CERDAS
Dalam dunia era digital sekarang, umur tak menjadi batasan orang untuk mengenal teknologi yang semakin berkemajuan dengan sangat pesat, sehingga memudahkan segala urusan yang ingin dituntaskan. Hubungan teknologi dan manusiapun bagaikan umpan timbal balik untuk perkembangan dunia, yang dimana manusia yang akan menjadi pusat informasi pengisi untuk mengembangkan apa yang terlintas dipikiran mereka dan teknologi hanya bertugas untuk mengikuti arahan manusia saja. Zaman era sekarang, teknologi bagaikan telah mengambil alih sistem kerja otak kita yang artinya teknologi yang akan memperbudak otak jika setiap hari kita mengonsumsi teknologi yang telepas dari keperluan kita sendiri. Bayangkan jika teknologi akan memperbudak otak yang berarati diri kita juga termasuk budak dari teknologi itu sendiri.
Dalam
data statistik yang merupakan data hasil survey yang dilakukan oleh Asosiasi
Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) sekertaris Jenderal APJII Henri
Kasyfi Soemartono menjelaskan, jumlah pengguna internet pada tahun 2017
tersebut mencakup 54,68% dari total populasi Indonesia yang mencapai 262 juta
orang, dikutip dari kompas.com. Bisa dibayangkan untuk perkembangan pada tahun
selanjutnya akan lebih bertambah lagi pengguna internet yang ada di Indonesia.
Jika kita melihat sebaliknya hal buruk yang dapat terjadi dengan pertambahan
jumlah pengguna internet di Indonesia akan ada banyak dampak negative yang akan
di timbulkan, apalagi sekarang yang mendominasi dunia internet adalah kalangan
remaja yang akan menginjak dewasa dengan tanda kutip masih berada dalam ruang
lingkup kondisi mental yang belum cukup stabil untuk menerima
informasi-informasi dari luar.
Cyberbullying
atau lebih dikenal dengan intimidasi dunia maya, dengan memanfaatkan jejaring
sosial untuk melakukan pesan ancaman melalui surel, mengunggah foto yang
mempermalukan korban, membuat situs web untuk menyebar fitnah dan mengolok-olok
korban hingga mengakses akun jejaring sosial orang lain untuk mengancam korban
dan membuat masalah.
Motivasi
pelakunya juga beragam ada yang melakukannya karena marah dan ingin balas
dendam, frustrasi, ingin mencari perhatian bahkan ada pula yang menjadikannya
sekadar hiburan pengisi waktu luang saja dimana hal ini sudah tidak asing lagi
ditelinga dan pandangan kita dan lebih parahnya saking sudah tak asing para
pengguna internet juga sudah tidak asing untuk melakukan cyberbullying tersebut
dengan maksud untuk ikut-ikutan saja ataupun sebagai lelucon saja. Jika hal ini
dibiarakan terus menerus terjadi, akan ada banyak korban nantinya, dan tak
tanggung-tanggung hingga ada yang sampai meninggal dunia akibat bunuh diri
karena menanggung malu yang telah menyebar. Hal-hal yang menurut si
pelaku adalah lelucon yang masih dalam batas wajar, tetapi bagi sang korban
ataupun keluarga korban itu sudah sangat diluar batas wajar.
Dari data yang ditemukan menurut menteri sosial Khofifah Indar Parawansa yang telah melakukan survey pada anak yang berusia 12-17 tahun, dengan 84% mengalami kasus bullying dan kebanyakan kasus bullying yang ditemukan adalah cyber bullying. Bisa dibayangkan saja pada rentan usia 12-17 tahun anak-anak pada kondisi tersebut sedang dalam masa pencarian jati diri mereka dengan kondisi yang masih labil dan banyak mencari sesuatu yang baru yang belum ia ketahui di dunia nyata alhasil mereka mencari jalan pintas untuk menjawab semua pertanyaannya lewat dunia maya. Seperti orang yang mengalami kecanduan, pada golongan pengguna internet mereka setiap hari akan mengonsumsi setiap postingan-postingan dari yang menjadi kebutuhan mereka yang sebenarnya sampai yang hanya ingin memerlukan hiburan saja. Nah pada kebutuhan hiburan untuk diri mereka sendiri ini, tak kala mereka sudah tidak memikirkan pokok hiburan yang sebenarnya yang layak untuk menjadi hiburan mereka. Mulai masuklah hiburan untuk mengejek orang lain di media sosial dengan maksud hanya untuk bercanda saja, jika tiap hari kita mengonsumsi hiburan seperti ini untuk menyenangkan diri sendiri apa kabar dengan orang-orang yang telah menjadi target sebagai penyenang diri kita sendiri.
Dengan
zaman yang yang sudah serba teknologi ini segala kebutuhan akan mudah
didapatkan yang tentu dengan tidak terlambat informasi untuk kemajuan ilmu
teknologi tersebut. Sesuatu yang negative pada dunia internet tentu tidak dapat
kita hilangkan dengan mudah begitu saja tetapi kita dapat mencegah untuk
perkembangan hal negative yang akan merusak para pengguna internet salah satu
sasarannya adalah usia 10-18 tahun karena pada rentan umur tersebut kita masih
dapat mengontrol perubahan-perubahan apa saja yang akan mereka alami. Oleh
karena itu, kita tentu tidak dapat bekerja sendiri untuk membatu mencegah
adanya cyberbullying yang ada di masyarakat saat ini, kita memerlukan campur
tangan dari pemerintah untuk membantu mencegah adanya cyberbullying yang akan
lebih parah lagi jika tidak cepat diatasi. Maka dari itu kita harus menciptakan
terobosan baru untuk teknologi yang lebih khususnya kepada para masyarakat
pengguna internet seperti aplikasi yang sudah terkoneksi pada setiap alat
teknologi para pengguna internet. Nantinya, aplikasi ini bisa membantu para
korban cyberbullying yang takut untuk melaporkan sang pelaku untuk menghentikan
aksi bullyingnya tersebut kepada sang korban, para orangtua pun bisa dapat
mengecek perubahan perilaku dari sikap anak yang mengalami gangguan mental.
Saat
sebuah aplikasi dirancang tentu harus membuat pengarahan-pengarahan dan
rancangan terlebih dahulu agar pengguna dapat mengerti cara menggunakan
aplikasi tersebut. Disini, untuk aplikasi khusus cyberbullying kita bisa
mendapatkan bantuan pemerintah untuk mau bekerja sama dalam mengatasi
cyberbullying yang akan lebih parah lagi. Kita membutuhkan bantuan dari polisi
untuk setiap titik tempat yang telah diatur dalam aplikasi tersebut, jadi
penggunaan google maps akan sangat membatu polisi untuk melacak tempat para
korban cyberbullying. Aplikasi ini nantinya akan dilengkapi dengan data-data
atau bukti cara pelaku melakukan cyberbullying pada korban, hal ini untuk
mewanti-wanti penyalahgunaan aplikasi.
Dalam
tanda kutip aplikasi ini dikhususkan bagi para korban yang takut untuk
melaporkan adanya tindakan cyberbullying. Nah, untuk aplikasi para orangtua
yang memiliki pembatasan komunikasi dengan anaknya atau memiliki anak yang
pendiam atau menutup diri, pihak yang akan bekerja sama adalah para psikolog
yang tentu telah bekerja sama dengan pemerintah. Para psikolog yang mau bekerja
sama akan ditempatkan disetiap titik yang berbeda agar memudahkan jalannya
konsultasi.
Para pelaku yang sudah dilaporkan nantinya akan ditindak lanjuti berdasarkan hukum yang berlaku, jika sang pelaku berusia dibawah 18 tahun mungkin tidak akan dijerat hukum karena masih dilindungi oleh undang-undang perlindungan anak. Tetapi kita bisa memberikan mereka hukuman ataupun pelajaran untuk menyadarkan diri mereka bahwa apa yang telah mereka lakukan itu meresahkan bahkan mereka bisa menjadi pembunuh yang tersirat. Oleh karena itu kepada pemerintah untuk usia dibawah 18 tahun yang terjerat kasus cyberbullying agar kiranya direhab terlebih dahulu agar tindakan mereka dapat dihilangkan.
Hal ini tentu akan berjalan dengan lancar, jika pemerintah mau bekerja sama untuk menjaga para anak bangsa yang nantinya akan menjadi penerus-penerus yang dapat membanggakan Negara, agama, dan orangtua. Hal ini juga tak luput dari perhatian setiap orangtua yang tidak ingin terjadi apa-apa dengan anaknya.
Oleh:
Risnu Yudoyono (20240110032_PBSIC-01)
Ingin Indonesia Punya Sistem Pendidikan Yang Baik
Potensi Indonesia untuk menjadi negara yang kaya, maju, dan sejahtera sangatlah besar dengan beribu pulau, luas wilayah, banyaknya sumber daya alam dan warga negara yang berjumlah 270 juta jiwa sangatlah memungkinkan apabila ingin jadi negara dengan devisa tinggi dan beranjak dari negara berkembang, dengan catatan semua sumber daya dikelola dengan baik. Tapi bisa juga jadi tantangan apabila pengelolaannya, kebijakannya tidak baik. Semua kekayaan yang ada di Indonesia haruslah dikelola oleh manusia modern yang berkualitas. Untuk mencapai semua cita-cita tersebut harus dimulai dengan pendidikan yang baik. Menurut TOPUNIVERSITIES, Universitas Gadjah Mada yang merupakan salah satu universitas terbaik di Indonesia hanya menempati ranking ke 239 dunia. Berbeda dengan universitas terbaik tetangga tidak usah jauh jauh saja ada di Malaysia namanya Universitas Malaya menempati peringkat ke 60 dunia. Padahal dengan biaya yang relatif tidak jauh berbeda tapi kualitasnya sangat jauh. Indonesia tertinggal masalah pendidikan karna kurikulum yang terus berganti dan belum menemukan racikan yang pas. Yang terakhir asal jiplak dari negara maju dan gagal diterapkan di Indonesia; yang terjadi malah daya juang belajar menurun, kemampuan dasar yang harusnya dikuasai seperti membaca dan menghitung saja tidak bisa tidak jarang ditemukan di anak yang bahkan sudah SMA, semuanya karna Ujian Nasional dihilangkan dan tidak adanya tidak naik kelas.
Bukan sepenuhnya salah si anak, tapi ada
kesalahan di orang dewasanya, yang punya tanggung jawab lebih, punya kewajiban
untuk membuat generasi penerus lebih baik; memberikan pendidikan dasar.
Kewajiban negara pula yang membuat kebijakan, mengelola dana, dan suber daya.
Tapi kebijakan sebagus apapun tidak akan berjalan dengan baik apabila semua
rakyatnya tidak bisa diajak maju, tidak bisa diajak kerjasama. Rakyat harus
sama-sama paham duduk masalahnya dan bagaimana solusi yang baik yang harus
diambil berdasarkan fakta dan bukti konkret bukan sekedar asumsi. Metode
pendidikan harus desesuaikan dengan kondisi masyarakat yang mau dididik.
Bagaimana kemampuan peserta didik secara umum, bagaimana kompetensi guru secara
umum. Negara-negara yang berhasil mencapai peningkatan kualitas pendidikan dan
SDM dengan baik, adalah negara yang tau posisinya dimana dan
menerapkan metode pendidikan sesuai dengan level negaranya. Jadi negara yang
levelnya 1 mau ke 2 akan beda metodenya dengan negara yang levelnya 4 mau ke 5.
Tidak bisa yang levelnya 1 tapi menggunakan metode yang 4 langsung. Bagaimana
dengan Indosesia? Indonesia berada di level 1.
Untuk bisa melakukan peningkatan kualitas
pendidikan dengan baik harus terpenuhi dulu dua titik tumpu:
1.
Pendidik atau Guru
Isu kesejahteraan guru itu penting adalah
benar, tapi tidak kalah penting juga adalah isu kompetensi pendidik. Guru harus
dipastikan punya kemampuan dasar yang baik dan punya kemampuan untuk
mengajarkan kemampuannya kepada orang lain. Karna ada banyak sekali guru yang
diberi kurikulum baru tapi tidak diaksanakan dengan baik malah tetap melakukan
kurikulum sebelumnya dikarenakan kemampuan guru tersebut tidak bisa menguasai
kurikulum yang baru. Intinya, guru harus kompeten, harus top, yang bisa
menyampaikan ilmunya kepada orang lain, bisa memanfaatkan teknologi, dan
disejahterkan dengan gaji yang sepadan.
2.
Pelaksanaan
Indonesia perlu punya sistem yang memastikan
kompetensi itu dicapai oleh peserta didik. Salah satunya harus ada assessment berstandar nasional yang
menjadi alat ukur orang layak atau tidaknya orang masuk ke jenjang berikutnya.
Tidak bisa membiarkan anak yang tidak layak naik kelas naik kelas terus, yang
harusnya tidak lulus diluluskan. Masalah di suatu jenjang sekolah itu akarnya dari jenjang SD, harus ada
penilaian yamg mengukur perkembangan minimal yang dicapai. Jangan sampai
tiba-tiba disuruh membuat makalah padahal struktur kalimat belum menguasai.
Jadi harus ada kebijakan yang baik dari
pemangku kebijakan atau di Indonesia depegang oleh
Kemendikbud. Libatkan semua sumber daya yang
ada; guru-gurunya yang berpengalaman. Untuk memastikan semua progres benar
terjadi harus ada evaluasi dari pihak yang bukan dari pihak pembuat kebijakan
itu sendiri. Harus ada lembaga khusus yang independen, yang diisi orang-orang
kompeten yang paham isunya, yang paham duduk perkaranya, yang bisa melakukan assessment. Dan mereka akan fokus ke
mengukur capaian pembelajaran seperti apa, hasil evaluasinya yang akan jadi
pijakan untuk semuanya mengambil keputusan terkait pendidikan. Pemerintah bisa
menggaet mungkin pakar, universitas, lembaga riset, dan profesional. Setelah
evaluasi dilakukan dengan baik, baru bisa diberikan insentif ke guru, sekolah,
yang layak, untuk yang berhasil melakukan keberhasilan meningkatkan kemampuan
dasar peserta didik. Guru harus ada pre-test
nasional sebelum anak masuk sekoah guru harus tau kemampuannya sudah sampai
mana, performa sekolah dan pengajar diukur dari loncatan perkembangannya.
Pendidikan publik adalah tanggung jawab bersama. Kalau kemampuan dasarnya tidak
kuat apapun programnya atau kurikulumnya akan tidak berjalan. Hancur. Pondsasinya harus kuat. Semakin banyak warga
Indonesia yang sadar, semakin cepat pula sistem pendidikan di Indonesia berprogres
ke arah yang lebih baik.
Aku Ingin Indonesia Menjadi Pusat Manufaktur Robotika dan Otomasi Negeri Bangsa
1. Potensi Indonesia
●
Industri
4.0 & Making Indonesia 4.0: Sejak 2018, Kemenperin mendorong
adopsi robot dan AI lewat PIDI 4.0, yang ditargetkan meningkatkan kontribusi
manufaktur ke GDP hingga 25% dan menciptakan 10 juta lapangan kerja baru pada
2030 en.wikipedia.org.
●
Pasar
digital & otomasi: McKinsey menyebut sektor otomasi
bisa menambah GDP Indonesia US$ 2,8 triliun pada 2040, pertumbuhan 0,55% per
tahun mckinsey.com.
●
Ekonomi
digital: Nilai ekonomi digital ASEAN
diperkirakan mencapai US$ 1 triliun pada 2030 sepertiganya berasal dari
Indonesia .
●
Elektronik
& robotika: INTI menyebut Indonesia berpeluang
besar jadi pemain global di sektor elektronik dan robotika karena pasar lokal
besar & SDM teknis memadai intimedia.id+1moderndiplomacy.eu+1.
Dari data ini terlihat bahwa
Indonesia punya modal kuat: pemerintah mendukung, pasar siap, dan tenaga kerja
mulai diarahkan ke teknologi.
2. Harapan Indonesia
Indonesia diharapkan menjadi:
- Negara maju berbasis teknologi
sejalan visi Indonesia Emas 2045, yang menargetkan jadi ekonomi terbesar
ke-4/5 dunia indonesiabusinesspost.com+3en.wikipedia.org+3ojk.go.id+3.
- Sentra manufaktur pintar & robotika
di kawasan, dengan teknologi mutakhir dan SOP global.
- Pencipta nilai tinggi &
lapangan kerja baru, dari lingkungan istimewa SDM
digital yang siap memimpin industri masa depan.
3. Cara Membangun Ekosistem
(Tahapan)
Berikut diagram proses membentuk
ekosistem robotika-otomasi:
Langkah-langkah:
- Inventarisasi Kekuatan Lokal
○
Identifikasi institusi, perusahaan,
penelitian/universitas, investor, dan startup.
○
Pahami kemampuan dan gap yang ada
(kelemahan kompetensi, infrastruktur, pendanaan).
- Beri Nilai Tambah Nyata
○
Fasilitasi prototipe atau pilot
project (contoh: robot industri di UMKM, automated sorting).
○
Kembangkan pusat demonstrasi
(misalnya PIDI 4.0) agar stakeholders bisa melihat hasil nyata .
- Bentuk Kemitraan Strategis
○
Kolaborasi pemerintah, industri, dan
akademisi: exchange learning dari negara seperti Korea/Germany time.com+11intimedia.id+11en.wikipedia.org+11.
○
Ajak perusahaan besar seperti
Telkom, Ericsson, Google Cloud untuk membangun infrastruktur, 5G, IoT medium.com+3mckinsey.com+3media.inti.asia+3.
- Bangun Sumber Daya Manusia
○
Tingkatkan pelatihan coding,
robotika, data science, AI melalui beasiswa, bootcamp, sertifikasi.
○
Sertifikasi tersentral lewat PIDI
4.0 dan asosiasi robot seperti ASRII intimedia.id+1ibai.or.id+1.
- Kembangkan Regulasi dan Insentif
○
Dorong kebijakan fiskal (super tax
deduction R&D, insentif industri, proteksi pasar).
○
Sederhanakan perizinan &
standarisasi bagi investor lokal dan asing.
- Bangun Kolaborasi & Ekspansi Pasar
○
Selenggarakan hackathon, symposium,
pameran robotika untuk mempertemukan inovator dan investor media.inti.asia.
○
Dorong ekspor teknologi: robot
pertanian, logistik, manufaktur ke ASEAN & global via kemitraan prakontrak.
4. Kesimpulan
Indonesia punya semua komponen untuk
menjadi pusat robotika dan otomasi: pasar besar, dukungan pemerintah, SDM yang
semakin siap, dan semangat kolaborasi. Yang dibutuhkan sekarang adalah ekosistem yang terencana,
berkelanjutan, dan berbasis kolaborasi nyata dari institusi riset, perusahaan,
hingga regulasi yang mendukung. Jika langkah-langkah di atas diimplementasi
secara sinergis, dalam waktu dekat Indonesia tidak hanya jadi pengguna teknologi,
tetapi juga pencipta terdepan di
bidang robotika dunia.
Oleh: Maydhotul Khasanah_20240110034_PBSI-01
Aku Ingin Indonesia Menjadi Pusat Pendidikan Berkualitas untuk Semua
1. Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, jumlah penduduk usia sekolah (5–24 tahun) mencapai lebih dari 80 juta jiwa. Ini merupakan potensi besar yang, jika dikelola dengan baik, dapat menjadi kekuatan utama bangsa di masa depan. Namun, tantangan dalam sektor pendidikan masih cukup besar: kesenjangan akses pendidikan antara kota dan desa, kualitas guru yang belum merata, hingga minimnya fasilitas dan teknologi di berbagai daerah.
UNESCO
dalam laporan Education for All Global Monitoring Report mencatat bahwa Indonesia
masih memiliki lebih dari 2 juta anak yang tidak bersekolah secara penuh.
Selain itu, skor PISA (Programme for International Student Assessment) 2022
menempatkan Indonesia di bawah rata-rata global dalam literasi membaca,
matematika, dan sains.
2.
Harapan saya adalah Indonesia menjadi negara yang memberikan pendidikan
berkualitas untuk semua anak, tanpa memandang status ekonomi, daerah asal,
maupun latar belakang budaya. Saya ingin setiap anak Indonesia mendapatkan guru
yang baik, fasilitas yang layak, dan sistem pendidikan yang memerdekakan cara
berpikir.
3.
Indonesia perlu membangun ekosistem pendidikan inklusif dan berkualitas melalui
langkah-langkah berikut:
-
Pemerataan kualitas guru dan tenaga pendidik. Pemerintah perlu memperluas
program pelatihan guru berbasis kompetensi, khususnya di daerah 3T (terdepan,
terluar, tertinggal).
-
Digitalisasi pendidikan secara merata. Akses internet cepat dan perangkat
belajar harus tersedia di seluruh sekolah, termasuk di pelosok.
-
Reformasi kurikulum. Kurikulum sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan masa
depan: fokus pada literasi, numerasi, karakter, serta keterampilan abad 21
seperti pemecahan masalah dan kreativitas.
-
Melibatkan komunitas dan sektor swasta. Kolaborasi dengan masyarakat, dunia
usaha, dan perguruan tinggi dapat memperluas program beasiswa, pelatihan
vokasional, dan magang.
-
Monitoring dan evaluasi berkelanjutan. Pemerintah harus memastikan bahwa setiap
kebijakan pendidikan benar-benar berdampak pada siswa dan guru, bukan hanya
sekadar data administrasi.
4.
Kesimpulannya, aku ingin Indonesia menjadi negeri yang tidak hanya membangun
gedung sekolah, tapi juga membangun harapan dan masa depan di dalamnya.
Pendidikan bukan sekadar formalitas, tetapi kekuatan utama untuk mewujudkan
bangsa yang mandiri, cerdas, dan beradab.
Aku Ingin Masyarakat Indonesia Serius Mengikis Pembajakan Buku
Pendahuluan Obral buku bajakan akan tetap laris terutama ketika harga buku asli dirasa begitu mencekik. Situasi ini kerap dialami ol...












