Tulis-Tulis

Hasil Karya Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan.

Tulis-Tulis

Hasil Karya Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan.

Tulis-Tulis

Hasil Karya Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan.

Tulis-Tulis

Hasil Karya Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan.

Tulis-Tulis

Hasil Karya Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan.

Minggu, 20 Juli 2025

Apakah penting kerapihan di lingkungan mahasiswa?

Apakah penting kerapihan di lingkungan kampus?

Lebih dari sekadar gaya: mengapa kerapihan pakaian mahasiswa itu sensial

Saat mengamati hiruk pikuk di lingkungan kampus, kita tentu akan menemui beragam gaya berbusana. Dari nuansa kasual seperti kaus oblong dan celana denim sobek, hingga tampilan yang lebih rapi dengan kemeja dan sepatu pantofel. Setiap mahasiswa, tentu saja, memiliki preferensinya masing-masing. Namun, di tengah kebebasan berekspresi ini, muncul sebuah pertanyaan fundamental: sejauh mana kerapian pakaian memegang peranan penting bagi seorang mahasiswa? Apakah ini sekadar urusan estetika, ataukah ada implikasi yang lebih mendalam?
Bagi sebagian individu, berbusana rapi mungkin terasa kuno atau bahkan membatasi. Mahasiswa, seringkali, diidentikkan dengan gaya yang santai dan praktis, mengingat padatnya jadwal perkuliahan dan tingginya tuntutan akademis. Namun, mari kita telaah lebih jauh. Kerapian, khususnya dalam aspek berpakaian, jauh melampaui sekadar penampilan visual. Ini merupakan bentuk komunikasi non-verbal yang sangat kuat, yang berpotensi memengaruhi persepsi orang lain terhadap kita, bahkan turut membentuk cara kita memandang diri sendiri.
Cerminan Profesionalisme dan Disiplin Diri
Meskipun belum sepenuhnya memasuki dunia kerja, mahasiswa sejatinya sedang dalam fase persiapan menuju jenjang tersebut. Kerapian dalam berbusana adalah salah satu indikator profesionalisme. Hal ini menunjukkan bahwa Anda memiliki disiplin diri untuk mengelola penampilan. Sikap positif ini dapat meluas ke aspek kehidupan lain, seperti dalam mengatur jadwal belajar, menyelesaikan tugas tepat waktu, atau berinteraksi secara efektif.
Meningkatkan Kepercayaan Diri
Percaya atau tidak, berbusana rapi dapat memengaruhi tingkat kepercayaan diri Anda. Ketika Anda merasa penampilan Anda optimal, akan terpancar energi positif. Anda akan lebih siap untuk berpresentasi di depan kelas, mengajukan pertanyaan, atau bahkan terlibat dalam interaksi sosial. Rasa nyaman dengan penampilan pribadi adalah kunci untuk menghadapi berbagai tantangan akademis dan sosial di lingkungan kampus.
Kerapian Tidak Identik dengan Kemewahan
Penting untuk digarisbawahi bahwa kerapian tidaklah setara dengan kemewahan. Anda tidak perlu mengenakan busana bermerek atau berharga fantastis untuk terlihat rapi. Kuncinya terletak pada kebersihan, kerapian, dan kesesuaian. Pakaian yang bersih, tidak kusut, tidak sobek (kecuali jika memang merupakan bagian dari desain yang disengaja), dan sesuai dengan situasi adalah poin-poin utamanya. Mahasiswa tetap dapat tampil stylish dan rapi dengan anggaran yang terbatas.



Jumat, 11 Juli 2025

AKU INGIN INDONESIA MENJADI NEGARA DENGAN SISTEM TEKNOLOGI YANG CERDAS

 Dalam dunia era digital sekarang, umur tak menjadi batasan orang untuk mengenal teknologi yang semakin berkemajuan dengan sangat pesat, sehingga memudahkan segala urusan yang ingin dituntaskan. Hubungan teknologi dan manusiapun bagaikan umpan timbal balik untuk perkembangan dunia, yang dimana manusia yang akan menjadi pusat informasi pengisi untuk mengembangkan apa yang terlintas dipikiran mereka dan teknologi hanya bertugas untuk mengikuti arahan manusia saja.  Zaman era sekarang, teknologi bagaikan telah mengambil alih sistem kerja otak kita yang artinya teknologi yang akan memperbudak otak jika setiap hari kita mengonsumsi teknologi yang telepas dari keperluan kita sendiri. Bayangkan jika teknologi akan memperbudak otak yang berarati diri kita juga termasuk budak dari teknologi itu sendiri.

Dalam data statistik yang merupakan data hasil survey yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) sekertaris Jenderal APJII Henri Kasyfi Soemartono menjelaskan, jumlah pengguna internet pada tahun 2017 tersebut mencakup 54,68% dari total populasi Indonesia yang mencapai 262 juta orang, dikutip dari kompas.com. Bisa dibayangkan untuk perkembangan pada tahun selanjutnya akan lebih bertambah lagi pengguna internet yang ada di Indonesia. Jika kita melihat sebaliknya hal buruk yang dapat terjadi dengan pertambahan jumlah pengguna internet di Indonesia akan ada banyak dampak negative yang akan di timbulkan, apalagi sekarang yang mendominasi dunia internet adalah kalangan remaja yang akan menginjak dewasa dengan tanda kutip masih berada dalam ruang lingkup kondisi mental yang belum cukup stabil untuk menerima informasi-informasi dari luar.

Cyberbullying atau lebih dikenal dengan intimidasi dunia maya, dengan memanfaatkan jejaring sosial untuk melakukan pesan ancaman melalui surel, mengunggah foto yang mempermalukan korban, membuat situs web untuk menyebar fitnah dan mengolok-olok korban hingga mengakses akun jejaring sosial orang lain untuk mengancam korban dan membuat masalah. 

Motivasi pelakunya juga beragam ada yang melakukannya karena marah dan ingin balas dendam, frustrasi, ingin mencari perhatian bahkan ada pula yang menjadikannya sekadar hiburan pengisi waktu luang saja dimana hal ini sudah tidak asing lagi ditelinga dan pandangan kita dan lebih parahnya saking sudah tak asing para pengguna internet juga sudah tidak asing untuk melakukan cyberbullying tersebut dengan maksud untuk ikut-ikutan saja ataupun sebagai lelucon saja. Jika hal ini dibiarakan terus menerus terjadi, akan ada banyak korban nantinya, dan tak tanggung-tanggung hingga ada yang sampai meninggal dunia akibat bunuh diri  karena menanggung malu yang telah menyebar. Hal-hal yang menurut si pelaku adalah lelucon yang masih dalam batas wajar, tetapi bagi sang korban ataupun keluarga korban itu sudah sangat diluar batas wajar. 

Dari data yang ditemukan menurut menteri sosial Khofifah Indar Parawansa yang telah melakukan survey pada anak yang berusia 12-17 tahun, dengan 84% mengalami kasus bullying dan kebanyakan kasus bullying yang ditemukan adalah cyber bullying. Bisa dibayangkan saja pada rentan usia 12-17 tahun anak-anak pada kondisi tersebut sedang dalam masa pencarian jati diri mereka dengan kondisi yang masih labil dan banyak mencari sesuatu yang baru yang belum ia ketahui di dunia nyata alhasil mereka mencari jalan pintas untuk menjawab semua pertanyaannya lewat dunia maya. Seperti orang yang mengalami kecanduan, pada golongan pengguna internet mereka setiap hari akan mengonsumsi setiap postingan-postingan dari yang menjadi kebutuhan mereka yang sebenarnya sampai yang hanya ingin memerlukan hiburan saja. Nah pada kebutuhan hiburan untuk diri mereka sendiri ini, tak kala mereka sudah tidak memikirkan pokok hiburan yang sebenarnya yang layak untuk menjadi hiburan mereka. Mulai masuklah hiburan untuk mengejek orang lain di media sosial dengan maksud hanya untuk bercanda saja, jika tiap hari kita mengonsumsi hiburan seperti ini untuk menyenangkan diri sendiri apa kabar dengan orang-orang yang telah menjadi target sebagai penyenang diri kita sendiri.

Dengan zaman yang yang sudah serba teknologi ini segala kebutuhan akan mudah didapatkan yang tentu dengan tidak terlambat informasi untuk kemajuan ilmu teknologi tersebut. Sesuatu yang negative pada dunia internet tentu tidak dapat kita hilangkan  dengan mudah begitu saja tetapi kita dapat mencegah untuk perkembangan hal negative yang akan merusak para pengguna internet salah satu sasarannya adalah usia 10-18 tahun karena pada rentan umur tersebut kita masih dapat mengontrol perubahan-perubahan apa saja yang akan mereka alami. Oleh karena itu, kita tentu tidak dapat bekerja sendiri untuk membatu mencegah adanya cyberbullying yang ada di masyarakat saat ini, kita memerlukan campur tangan dari pemerintah untuk membantu mencegah adanya cyberbullying yang akan lebih parah lagi jika tidak cepat diatasi. Maka dari itu kita harus menciptakan terobosan baru untuk teknologi yang lebih khususnya kepada para masyarakat pengguna internet seperti aplikasi yang sudah terkoneksi pada setiap alat teknologi para pengguna internet. Nantinya, aplikasi ini bisa membantu para korban cyberbullying yang takut untuk melaporkan sang pelaku untuk menghentikan aksi bullyingnya tersebut kepada sang korban, para orangtua pun bisa dapat mengecek perubahan perilaku dari sikap anak yang mengalami gangguan mental.

Saat sebuah aplikasi dirancang tentu harus membuat pengarahan-pengarahan dan rancangan terlebih dahulu agar pengguna dapat mengerti cara menggunakan aplikasi tersebut. Disini, untuk aplikasi khusus cyberbullying kita bisa mendapatkan bantuan pemerintah untuk mau bekerja sama  dalam mengatasi cyberbullying yang akan lebih parah lagi. Kita membutuhkan bantuan dari polisi untuk setiap titik tempat yang telah diatur dalam aplikasi tersebut, jadi penggunaan google maps akan sangat membatu polisi untuk melacak tempat para korban cyberbullying. Aplikasi ini nantinya akan dilengkapi dengan data-data atau bukti cara pelaku melakukan cyberbullying pada korban, hal ini untuk mewanti-wanti penyalahgunaan aplikasi.

Dalam tanda kutip aplikasi ini dikhususkan bagi para korban yang takut untuk melaporkan adanya tindakan cyberbullying. Nah, untuk aplikasi para orangtua yang memiliki pembatasan komunikasi dengan anaknya atau memiliki anak yang pendiam atau menutup diri, pihak yang akan bekerja sama adalah para psikolog yang tentu telah bekerja sama dengan pemerintah. Para psikolog yang mau bekerja sama akan ditempatkan disetiap titik yang berbeda agar memudahkan jalannya konsultasi. 

Para pelaku yang sudah dilaporkan nantinya akan ditindak lanjuti berdasarkan hukum yang berlaku, jika sang pelaku berusia dibawah 18 tahun mungkin tidak akan dijerat hukum karena masih dilindungi oleh undang-undang perlindungan anak. Tetapi kita bisa memberikan mereka hukuman ataupun pelajaran untuk menyadarkan diri mereka bahwa apa yang telah mereka lakukan itu meresahkan bahkan mereka bisa menjadi pembunuh yang tersirat. Oleh karena itu kepada pemerintah untuk usia dibawah 18 tahun yang terjerat kasus cyberbullying agar kiranya direhab terlebih dahulu agar tindakan mereka dapat dihilangkan.

Hal ini tentu akan berjalan dengan lancar, jika pemerintah mau bekerja sama untuk menjaga para anak bangsa yang nantinya akan menjadi penerus-penerus yang dapat membanggakan Negara, agama, dan orangtua. Hal ini juga tak luput dari perhatian setiap orangtua yang tidak ingin terjadi apa-apa dengan anaknya.

Oleh: Risnu Yudoyono (20240110032_PBSIC-01)

Ingin Indonesia Punya Sistem Pendidikan Yang Baik

 Potensi Indonesia untuk menjadi negara yang kaya, maju, dan sejahtera sangatlah besar dengan beribu pulau, luas wilayah, banyaknya sumber daya alam dan warga negara yang berjumlah 270 juta jiwa sangatlah memungkinkan apabila ingin jadi negara dengan devisa tinggi dan beranjak dari negara berkembang, dengan catatan semua sumber daya dikelola dengan baik. Tapi bisa juga jadi tantangan apabila pengelolaannya, kebijakannya tidak baik. Semua kekayaan yang ada di Indonesia haruslah dikelola oleh manusia modern yang berkualitas. Untuk mencapai semua cita-cita tersebut harus dimulai dengan pendidikan yang baik. Menurut TOPUNIVERSITIES, Universitas Gadjah Mada yang merupakan salah satu universitas terbaik di Indonesia hanya menempati ranking ke 239 dunia. Berbeda dengan universitas terbaik tetangga tidak usah jauh jauh saja ada di Malaysia namanya Universitas Malaya menempati peringkat ke 60 dunia. Padahal dengan biaya yang relatif tidak jauh berbeda tapi kualitasnya sangat jauh. Indonesia tertinggal masalah pendidikan karna kurikulum yang terus berganti dan belum menemukan racikan yang pas. Yang terakhir asal jiplak dari negara maju dan gagal diterapkan di Indonesia; yang terjadi malah daya juang belajar menurun, kemampuan dasar yang harusnya dikuasai seperti membaca dan menghitung saja tidak bisa tidak jarang ditemukan di anak yang bahkan sudah SMA, semuanya karna Ujian Nasional dihilangkan dan tidak adanya tidak naik kelas.


 


Bukan sepenuhnya salah si anak, tapi ada kesalahan di orang dewasanya, yang punya tanggung jawab lebih, punya kewajiban untuk membuat generasi penerus lebih baik; memberikan pendidikan dasar. Kewajiban negara pula yang membuat kebijakan, mengelola dana, dan suber daya. Tapi kebijakan sebagus apapun tidak akan berjalan dengan baik apabila semua rakyatnya tidak bisa diajak maju, tidak bisa diajak kerjasama. Rakyat harus sama-sama paham duduk masalahnya dan bagaimana solusi yang baik yang harus diambil berdasarkan fakta dan bukti konkret bukan sekedar asumsi. Metode pendidikan harus desesuaikan dengan kondisi masyarakat yang mau dididik. Bagaimana kemampuan peserta didik secara umum, bagaimana kompetensi guru secara umum. Negara-negara yang berhasil mencapai peningkatan kualitas pendidikan dan SDM  dengan baik,  adalah negara yang tau posisinya dimana dan menerapkan metode pendidikan sesuai dengan level negaranya. Jadi negara yang levelnya 1 mau ke 2 akan beda metodenya dengan negara yang levelnya 4 mau ke 5. Tidak bisa yang levelnya 1 tapi menggunakan metode yang 4 langsung. Bagaimana dengan Indosesia? Indonesia berada di level 1. 

 

Untuk bisa melakukan peningkatan kualitas pendidikan dengan baik harus terpenuhi dulu dua titik tumpu:

1.     Pendidik atau Guru

Isu kesejahteraan guru itu penting adalah benar, tapi tidak kalah penting juga adalah isu kompetensi pendidik. Guru harus dipastikan punya kemampuan dasar yang baik dan punya kemampuan untuk mengajarkan kemampuannya kepada orang lain. Karna ada banyak sekali guru yang diberi kurikulum baru tapi tidak diaksanakan dengan baik malah tetap melakukan kurikulum sebelumnya dikarenakan kemampuan guru tersebut tidak bisa menguasai kurikulum yang baru. Intinya, guru harus kompeten, harus top, yang bisa menyampaikan ilmunya kepada orang lain, bisa memanfaatkan teknologi, dan disejahterkan dengan gaji yang sepadan. 

2.     Pelaksanaan 

Indonesia perlu punya sistem yang memastikan kompetensi itu dicapai oleh peserta didik. Salah satunya harus ada assessment berstandar nasional yang menjadi alat ukur orang layak atau tidaknya orang masuk ke jenjang berikutnya. Tidak bisa membiarkan anak yang tidak layak naik kelas naik kelas terus, yang harusnya tidak lulus diluluskan. Masalah di suatu jenjang sekolah  itu akarnya dari jenjang SD, harus ada penilaian yamg mengukur perkembangan minimal yang dicapai. Jangan sampai tiba-tiba disuruh membuat makalah padahal struktur kalimat belum menguasai.

 

Jadi harus ada kebijakan yang baik dari pemangku kebijakan atau di Indonesia depegang oleh

Kemendikbud. Libatkan semua sumber daya yang ada; guru-gurunya yang berpengalaman. Untuk memastikan semua progres benar terjadi harus ada evaluasi dari pihak yang bukan dari pihak pembuat kebijakan itu sendiri. Harus ada lembaga khusus yang independen, yang diisi orang-orang kompeten yang paham isunya, yang paham duduk perkaranya, yang bisa melakukan assessment. Dan mereka akan fokus ke mengukur capaian pembelajaran seperti apa, hasil evaluasinya yang akan jadi pijakan untuk semuanya mengambil keputusan terkait pendidikan. Pemerintah bisa menggaet mungkin pakar, universitas, lembaga riset, dan profesional. Setelah evaluasi dilakukan dengan baik, baru bisa diberikan insentif ke guru, sekolah, yang layak, untuk yang berhasil melakukan keberhasilan meningkatkan kemampuan dasar peserta didik. Guru harus ada pre-test nasional sebelum anak masuk sekoah guru harus tau kemampuannya sudah sampai mana, performa sekolah dan pengajar diukur dari loncatan perkembangannya. Pendidikan publik adalah tanggung jawab bersama. Kalau kemampuan dasarnya tidak kuat apapun programnya atau kurikulumnya akan tidak berjalan. Hancur.  Pondsasinya harus kuat. Semakin banyak warga Indonesia yang sadar, semakin cepat pula sistem pendidikan di Indonesia berprogres ke arah yang lebih baik.


Oleh: Alik Maulana Malik_20240110021_PBSI-01

Aku Ingin Indonesia Menjadi Pusat Manufaktur Robotika dan Otomasi Negeri Bangsa

 

1. Potensi Indonesia

      Industri 4.0 & Making Indonesia 4.0: Sejak 2018, Kemenperin mendorong adopsi robot dan AI lewat PIDI 4.0, yang ditargetkan meningkatkan kontribusi manufaktur ke GDP hingga 25% dan menciptakan 10 juta lapangan kerja baru pada 2030 en.wikipedia.org.

      Pasar digital & otomasi: McKinsey menyebut sektor otomasi bisa menambah GDP Indonesia US$ 2,8 triliun pada 2040, pertumbuhan 0,55% per tahun mckinsey.com.

      Ekonomi digital: Nilai ekonomi digital ASEAN diperkirakan mencapai US$ 1 triliun pada 2030 sepertiganya berasal dari Indonesia .

      Elektronik & robotika: INTI menyebut Indonesia berpeluang besar jadi pemain global di sektor elektronik dan robotika karena pasar lokal besar & SDM teknis memadai intimedia.id+1moderndiplomacy.eu+1.

Dari data ini terlihat bahwa Indonesia punya modal kuat: pemerintah mendukung, pasar siap, dan tenaga kerja mulai diarahkan ke teknologi.

 

2. Harapan Indonesia

Indonesia diharapkan menjadi:

  1. Negara maju berbasis teknologi sejalan visi Indonesia Emas 2045, yang menargetkan jadi ekonomi terbesar ke-4/5 dunia indonesiabusinesspost.com+3en.wikipedia.org+3ojk.go.id+3.

  2. Sentra manufaktur pintar & robotika di kawasan, dengan teknologi mutakhir dan SOP global.

  3. Pencipta nilai tinggi & lapangan kerja baru, dari lingkungan istimewa SDM digital yang siap memimpin industri masa depan.

 

 



 

3. Cara Membangun Ekosistem (Tahapan)

Berikut diagram proses membentuk ekosistem robotika-otomasi:



Langkah-langkah:

  1. Inventarisasi Kekuatan Lokal

      Identifikasi institusi, perusahaan, penelitian/universitas, investor, dan startup.

      Pahami kemampuan dan gap yang ada (kelemahan kompetensi, infrastruktur, pendanaan).

  1. Beri Nilai Tambah Nyata

      Fasilitasi prototipe atau pilot project (contoh: robot industri di UMKM, automated sorting).

      Kembangkan pusat demonstrasi (misalnya PIDI 4.0) agar stakeholders bisa melihat hasil nyata .

  1. Bentuk Kemitraan Strategis

      Kolaborasi pemerintah, industri, dan akademisi: exchange learning dari negara seperti Korea/Germany time.com+11intimedia.id+11en.wikipedia.org+11.

      Ajak perusahaan besar seperti Telkom, Ericsson, Google Cloud untuk membangun infrastruktur, 5G, IoT medium.com+3mckinsey.com+3media.inti.asia+3.

  1. Bangun Sumber Daya Manusia

      Tingkatkan pelatihan coding, robotika, data science, AI melalui beasiswa, bootcamp, sertifikasi.

      Sertifikasi tersentral lewat PIDI 4.0 dan asosiasi robot seperti ASRII intimedia.id+1ibai.or.id+1.

  1. Kembangkan Regulasi dan Insentif

      Dorong kebijakan fiskal (super tax deduction R&D, insentif industri, proteksi pasar).

      Sederhanakan perizinan & standarisasi bagi investor lokal dan asing.

  1. Bangun Kolaborasi & Ekspansi Pasar

      Selenggarakan hackathon, symposium, pameran robotika untuk mempertemukan inovator dan investor media.inti.asia.

      Dorong ekspor teknologi: robot pertanian, logistik, manufaktur ke ASEAN & global via kemitraan prakontrak.

 

4. Kesimpulan

Indonesia punya semua komponen untuk menjadi pusat robotika dan otomasi: pasar besar, dukungan pemerintah, SDM yang semakin siap, dan semangat kolaborasi. Yang dibutuhkan sekarang adalah ekosistem yang terencana, berkelanjutan, dan berbasis kolaborasi nyata dari institusi riset, perusahaan, hingga regulasi yang mendukung. Jika langkah-langkah di atas diimplementasi secara sinergis, dalam waktu dekat Indonesia tidak hanya jadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta terdepan di bidang robotika dunia.


Oleh: Maydhotul Khasanah_20240110034_PBSI-01


Aku Ingin Indonesia Menjadi Pusat Pendidikan Berkualitas untuk Semua

1. Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, jumlah penduduk usia sekolah (5–24 tahun) mencapai lebih dari 80 juta jiwa. Ini merupakan potensi besar yang, jika dikelola dengan baik, dapat menjadi kekuatan utama bangsa di masa depan. Namun, tantangan dalam sektor pendidikan masih cukup besar: kesenjangan akses pendidikan antara kota dan desa, kualitas guru yang belum merata, hingga minimnya fasilitas dan teknologi di berbagai daerah.

UNESCO dalam laporan Education for All Global Monitoring Report mencatat bahwa Indonesia masih memiliki lebih dari 2 juta anak yang tidak bersekolah secara penuh. Selain itu, skor PISA (Programme for International Student Assessment) 2022 menempatkan Indonesia di bawah rata-rata global dalam literasi membaca, matematika, dan sains.

2. Harapan saya adalah Indonesia menjadi negara yang memberikan pendidikan berkualitas untuk semua anak, tanpa memandang status ekonomi, daerah asal, maupun latar belakang budaya. Saya ingin setiap anak Indonesia mendapatkan guru yang baik, fasilitas yang layak, dan sistem pendidikan yang memerdekakan cara berpikir.

3. Indonesia perlu membangun ekosistem pendidikan inklusif dan berkualitas melalui langkah-langkah berikut:

- Pemerataan kualitas guru dan tenaga pendidik. Pemerintah perlu memperluas program pelatihan guru berbasis kompetensi, khususnya di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal).

- Digitalisasi pendidikan secara merata. Akses internet cepat dan perangkat belajar harus tersedia di seluruh sekolah, termasuk di pelosok.

- Reformasi kurikulum. Kurikulum sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan masa depan: fokus pada literasi, numerasi, karakter, serta keterampilan abad 21 seperti pemecahan masalah dan kreativitas.

- Melibatkan komunitas dan sektor swasta. Kolaborasi dengan masyarakat, dunia usaha, dan perguruan tinggi dapat memperluas program beasiswa, pelatihan vokasional, dan magang.

- Monitoring dan evaluasi berkelanjutan. Pemerintah harus memastikan bahwa setiap kebijakan pendidikan benar-benar berdampak pada siswa dan guru, bukan hanya sekadar data administrasi.



 

4. Kesimpulannya, aku ingin Indonesia menjadi negeri yang tidak hanya membangun gedung sekolah, tapi juga membangun harapan dan masa depan di dalamnya. Pendidikan bukan sekadar formalitas, tetapi kekuatan utama untuk mewujudkan bangsa yang mandiri, cerdas, dan beradab.

 

Oleh: Rizqia Nur Amalia (20240110050_PBSIC-02)


Aku Ingin Masyarakat Indonesia Serius Mengikis Pembajakan Buku

  Pendahuluan   Obral buku bajakan akan tetap laris terutama ketika harga buku asli dirasa begitu mencekik. Situasi ini kerap dialami ol...